Menu Tab

  • BERANDA
  • PUISI
  • MOTIVASI
  • INDOOR
  • OUTDOOR

Selasa, 12 April 2016

SPIRITUALITAS ALA SAIM Part I

Apakah arti kata spiritual? Mari kita baca beberapa definisi tentang kata spiritual berikut:
Spiritual/spi·ri·tu·al/ a berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).
Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :

1)      Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan,
2)      Menemukan arti dan tujuan hidup,
3)      Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri,
4)      Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi.

Nah, sekarang kita simak apa yang ada di Sekolah Alam Insan Mulia. Sekolah ini dibangun dengan fondasi filosofi yang kuat. Memberi makna pada setiap sudutnya, menjadi materi pembelajaran bagi guru dan siswa-siswinya.


Pada suatu pagi, wajah cantik bunda bermata sipit datang menghampiri.
“Permisi, saya mau bertanya”
Sepasang ayah dan bunda berwajah Chinese menyapa ketika para guru berjejer di pintu gerbang menyambut kedatangan anak-anak mengawali hari dalam proses belajar mereka di sekolah.
“Iya Bapak/Ibu, ada yang bisa kami bantu?”
“Saya ingin informasi tentang bagaimana cara mendaftarkan anak saya di sekolah ini?”
“Mari kita duduk di kursi lobby saja ayah dan bunda”
Sesampainya kami di lobby, duduk berbincang tentang semua hal; proses pembelajaran, aturan, kegiatan ekstra, dan semua yang menjadi pertanyaan beliau terjawab. Ada satu pertanyaan terakhir yang harus kami jawab juga.
“Maaf Ust, apakah ini sekolah Islam?”
“Iya Ayah, ini sekolah Islam”
“Hmm, jadi kami tidak bisa mendaftarkan anak kami di sekolah ini? Karena kami bukan muslim?”
“Ooh, demikian ya Bunda. Iya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya”
“Kami sangat ingin anak kami mendapatkan proses pendidikan seperti ini Ust. Mengapa tidak untuk umum saja?”
“ Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya ayah dan bunda. Kami merasa sangat terhormat melihat harapan ayah dan bunda. Namun, kami memang disain sekolah Islam dan tidak bisa menyediakan keragaman fasilitas keagamaan”
“Baiklah Ust, semoga kami segera menemukan sekolah yang asri, ramah, dan energi bahagia di mana-mana”
“Amin, semoga ayah dan bunda. Kami sangat senang dengan kunjungan ayah dan bunda”
“Jika demikian, kami pamit ya Ust”
“Baiklah, silakan”
Setelah mengantarkan ayah dan bunda sampai ke pintu gerbang, saya termenung dan mulai berpikir tentang segala hal yang telah kami lakukan di sekolah ini dalam setiap proses pembelajaran yang menunjukkan perbedaan identitas kami dengan sekolah lain. Terutama dalam sisi “Spiritual” yang menjadi fondasi bangunan karakter generasi muslim yang kami bimbing sekaligus menjadi guru kami.
Sebenarnya apa saja yang sudah dilakukan di Sekolah Alam Insan Mulia dan sangat membutuhkan kerjasama dengan orangtua untuk menghasilkan pendidikan karakter yang melahirkan generasi cinta agama dan melaksanakan setiap kewajiban tanpa keterpaksaan?


Mengapa Disain Kelas Unik?

Segi 8 adalah simbol penjuru mata angin, dan dalam disain ruang segi delapan memperlihatkan keleluasaan dan memungkinkan anak bergerak dengan bebas. Tidak ada yang merasa unggul karena selalu di baris depan, atau merasa minder selalu berada di bangku belakang. Semua siswa merasakan posisi duduk yang sama dalam berbagai kreasi bentuk.

Dua pintu melambangkan banyak jalan dalam menyelesaikan sebuah masalah, bisa juga diterjemahkan dengan pintu rezeki. Jika pintu satu tertutup, maka sambutlah pintu lain. Pintu ini juga bisa dikreasikan untuk brain storming, menciptakan suasana baru setiap hari.
Jendela yang terbentang di tiga sisi ruang, memberikan arti bahwa generasi ini tidak boleh terlena di kandang sendiri. Meski di dalam sedang berproses belajar, tetapi siswa masih bisa melihat kejadian di luar yang memungkinkan mereka untuk mengasah daya pikir visioner. Melihat jauh ke depan dan memilah mana yang terbaik untuk dirinya. Persoalan yang bukan bagiannya akan dipercayakan pada ahlinya.
Meja dan kursi yang berwarna warni, ukuran yang disesuaikan dengan perkambangan tulang sesuai usia, dan dinding warna warni dengan hiasan materi atau karya anak selalu menjadi daya tarik istimewa. Menghargai karya anak, menjadikan dinding sebagai sudut informasi, serta memberikan nutrisi pada otak anak dengan keceriaan warna dan informasi yang sesuai dengan apa yang sedang dipelajari dalam kurun waktu tertentu.


Mengapa Diskusi antara Anak dan Guru di Sekolah Menjadi Utama?

Kegiatan diskusi bersama anak baik dalam proses pembelajaran maupun proses penyelesaian masalah anak menjadi fokus utama di SAIM. Bahkan, para guru akan melakukan pending untuk menyelesaikan target pembelajaran demi menuntaskan persoalan anak terlebih dahulu. Proses ini dilalui untuk memberi kesempatan anak dalam menguraikan persoalan mereka dan mencari solusi yang tepat untuk mereka sendiri.
Guru berperan sebagai pendengar yang baik. Melihat dan menimbang semua yang ada, menempatkan diri di tengah-tengah, meski kadang tahu siapa yang harus diberi keadilan. Jurus keadilan akan dihadirkan ketika salahsatu subyek sudah “terdholimi”. Sesungguhya siapa yang telah belajar spiritual di sini?
Guru dan murid tentunya!
Tidak menutup kemungkinan ketika anak bercerita kepada orangtua, maka orangtua juga akan belajar mencari jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana dari persoalan anak-anak. Tantangan bagi orangtua untuk melihat setiap detail persoalan dalam ranah keadilan. Melihat dan merasakan darah daging sendiri sedih dan merasa didholimi.


Bagaimana sikap terbaik yang bisa dilakukan orangtua?
Mendengarkan keluh kesah anak?
Berdiskusi dengan ustads/ustadzah kelas?
Bertemu dan diskusi dengan psikolog?
Mengingatkan anak dengan kalimat positif?
Membekali anak dengan kemampuan komunikasi dan solusi?
Menghakimi anak atau teman yang bermasalah dengan anak?
Menghubungi orangtua teman dan berdiskusi/bersilaturahim?
Memutuskan tali silaturahim antar orangtua?
Menuntut pihak sekolah untuk persoalan anak?
Semua pilihan jawaban tersedia dari beberapa sudut pandang. Dan orangtua PASTI akan lebih bijaksana dalam memilih tindakan, bahkan akan menemukan sejuta pilihan bagi para orangtua yang bijaksana.




Mengapa Belajar Spiritual dalam Kegiatan Berkebun?

Kegiatan berkebun merupakan kegiatan yang mengasah salahsatu kemampuan lifeskill, namun di sisi lain berkebun memiliki ruang spiritualitas sangat tinggi. Yap! Ada banyak kajian yang hadir dalam kegitan ini, diantaranya:
a.       Menerima keragaman teman dalam kelompok
b.      Berbagi tugas dan kewajiban
c.       Memahami ilmu sains tentang media tanam
d.      Merasakan profesi sebagai petani
e.       Mempelajari proses perawatan tanaman
f.       Belajar berapa lama proses pertumbuhan
g.      Berapa harga tanaman yang nanti dipenen
h.      Bisa diolah menjadi apa saja tanaman tersebut
i.        Mempelajari mengapa pertumbuhan tanaman tidak sama
j.        Berusaha untuk menolong tanaman yang tidak subur
k.      Bagaimana jika ada teman yang tidak sengaja merusak tanaman?
l.        Belajar mengenal makluk lain yang juga ingin hidup di tanaman (ulat,hama, dll)
m.    Bagaimana tumbuhan bisa merespon rasa sayang manusia?
n.      Adakah ayat al-qur’an yang menjelaskan tentang tanaman?
o.      Siapakah Sang Maha Pencipta itu?


Jika menanam ini dikaji secara mendalam satu per satu, didiskusikan dan diceritakan dengan menarik, sepertinya satu bulan bisa jadi belum cukup membahas ini. Hehehe … Sekolah Alam Insan Mulia melakukan pembelajaran secara langsung, mempertanyakan, mencari jawaban, dan memperluas pemikiran anak dari berbagai sisi. Dunia spiritual dalam proyek menanam tidak terasa nyata dalam kurun waktu sebulan dua bulan. Namun, pengalaman spiritual tersebut telah bersemayam menyusun puzzle pengalaman anak dan berkembang dengan motivasi yang diberikan oleh orangtua di rumah.

Apalagi bagi orangtua yang menyediakan waktu khusus untuk diskusi dan belajar bersama anak tentang hal-hal yang nyata. Sungguh, pengalaman yang lengkap dan penuh makna untuk mengisi kehidupan mereka di hari kemudian. Peran guru dan orangtua hampir sama dalam hal ini; menjadi salahsatu dari sekian banyak referensi, tempat bertanya, penyampai informasi, dan tentu saja menjadi guru yang bisa menjawab rasa penasaran anak.


Demikian juga ketika kegiatan observasi pantai, hutan, koleksi nama tanaman dan hewan di sekolah, mengamati lingkungan, dan semua kegiatan yang dirumuskan dengan nilai-nilai spiritual. Nilai spiritual ini tidak hanya diberikan, namun perlu persiapan yang baik, diskusi yang melibatkan pemikiran anak, dan evaluasi bersama sehingga muncul pemahaman yang lengkap tentang segala sesuatu.




Mengapa Suasana Kelas dan Pembelajaran Harus Selalu Berubah?

Otak kita akan bekerja lebih cepat jika mendapatkan nutrisi yang tepat. Nutrisi otak kita adalah pengetahuan yang benar. Stimulus yang diberikan kepada otak kita bisa beragam. Mengubah posisi meja dan kursi di kelas, mengajak anak melakukan sesuatu dengan cara baru, membalik gambar, menulis dengan tangan kiri, dan lain-lain.

Media yang tidak dipikirkan anak namun mampu digunakan guru sebagai sebuah pembelajaran, itulah kesan yang tak tergantikan. Menjadikan kursi sebagai becak, kereta, dan berbagi macam alat transportasi dalam sebuah pembelajaran pasti sangat menyenangkan.


Lagu, kisah, dan pengalaman yang menarik akan menjadi inspirasi bagi anak-anak. Bahkan, kita tidak perlu banyak menasehati jika gur dan orangtua cerdas dalam berkisah. Kisah menjadi pengantar materi akhlak dan menanamkan jiwa yang penuh dengan spiritualitas yang baik.

Sabtu, 02 April 2016

AYAHKU KETANGGUHANKU



“Peran Ayah Yang Tak Tergantikan”


Seorang ibu menggerutu tentang sikap anaknya. Si ibu merasa si anak menjadi masalah. Begitu juga dengan si ayah, mencari nafkah tanpa jeda. Mereka melahirkan yang disebut amanah, namun belum cukup menampakkan kesyukuran atas amanah. Mungkin juga belum memahami apa arti amanah.
Anak tidak bisa memilih, orangtua seperti apa yang melahirkan mereka. MAka sesungguhnya dalam pendidikan, bunda adalah madrasah dan ayah adalah kepala sekolahnya. Jika mau melihat kehancuran anak-anak, cukup lahirkan mereka, kemudian abaikan.

Luqman? Mengapa mendapatkan tempat istimewa dalam al-Qur’an?
Siapakah Luqman? Apakah Luqman seorang ibu? Bukan Luqman adalah seorang ayah, mendapatkan tempat istimewa dalam kalam Alloh SWT. Pelajaran mendidik anak melaui ayat-ayat langit, bukan keilmuan modern di dunia ini.

“Jika PENDIDIKAN kita tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosululloh, maka akan terjadi penyimpangan atas kebenaran dan kebaikan”

Peran ayah merupakan peran sentral dalam pendidikan. Dalam al-Qur’an disebutkan 17 kali dialog antara orangtua dengan anak. 14 kali menyebut ayah, 2 kali menyebut ibu, dan 1 kali tidak disebutkan (kedua orangtua). Pelukan sang ayah pada anak lelakinya akan menguatkan, pelukan ayah pada anak perempuannya akan menenangan. Ini berarti, tugas dialog dengan anak sesungguhnya adalah ayah. Namun, dalam kehidupan kita realita yang terjadi adalah sebaliknya.
Jika anak hidup tanpa pelukan ayah, maka bisa jadi saat dewasa akan terjadi penyimpangan karakter laki-laki dan perempuan.

Ayat An-Nisa: 9
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut kepada Alloh, orang-orang yang seandainya meningalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Q.S An-Nisa’: 9)
Kelemahan seperti apakah yang dimaksud?
1.      Lemah Fisik
2.      Lemah Mental
3.      Lemah Intelektual
4.      Lemah Spiritual
5.      Lemah Finansial
Takut kepada Alloh SWT dan mengucapkan perkataan yang benar adalah kunci pendidikan yang disebutkan dalam ayat di atas.
Ayah adalah pribadi yang dapat menghancurkan keluarga, ketika sosok ayah belum mampu menjadi kepala sekolah.
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا 
Siapakah yang diperintahkan untuk menyelamatkan keluarga dari api neraka? Kepala keluarga tentunya.
Maka, jika dalam keluarga itu telah terdapat perbedaan prinsip utama, yaitu agama. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat ibu yang egois dan ayah yang tidak peduli dengan keselamatan keluarganya.
Surga di telapak kaki ibu

Maka ketika ibu melangkahkan kaki pada kebaikan, sesungguhnya ibu telah menuntun anak-anaknya pada kebaikan. Sebaliknya, jika ibu melangkahkan kaki pada keburukan, maka tidak perlu menyalahkan jika anak menjadi generasi yang tidak bisa diharapkan.
Keteladanan orangtua menjadi cermin bagi anak-anaknya. Ketika orangtua meminta anak untuk melaksanakan jama’ah, maka orangtua harus menjadi contoh berjama’ah. Jika orangtua meminta anak untuk jujur, maka orangtua lah guru kejujuran yang utama. Jika orangtua berharap anak mampu menghafalkan juz 30, maka orangtua sudah hafal juz 30 dan juz 29.
Yang perlu diperhatikan, “Berikanlah pengasuhan anak kepada orang lain, maka tidak akan ada masa menikmati hasil pendidikan yang diharapkan”
Nenek dan kakek adalah orangtua yang super wajib dihormati dan perlakukan dengan sangat baik. Namun, meyerahkan pengasuhan anak kepada beliau berdua belum menjadi pilihan bijak. Karena rasa cinta beliau kepada cucunya, melebihi cinta kepada anak-anaknya. Dan cinta inilah yang terkadang menjadi cinta yang menjauhkan anak dari kesempurnaan proses belajar.
Terkadang yang saat ini kita lakukan adalah:

Bekerja mati-matian untuk mendapatkan segala hal yang tidak bisa dibawa mati

Maka, para orangtua harus kembali mengkaji arti amanah pada diri anak masing-masing. Hanya ada tiga hal yang akan dibawa manusia kepada kehidupan berikutnya:
Pertama: Sodaqoh Jariyah
Kedua: Ilmu yang berguna
Ketiga: Anak sholeh dan sholehah yang mendo’akan kedua orangtuanya
(Catatan dari Parenting di Sekolah Alam Insan Mulia Surabay)
Speaker: Suhadi Fajaray




Kamis, 18 Februari 2016

SIMPLE DESIGN AND FUN LEARNING

“Kamu belajar apa hari ini? “
“Bermain”

Ya, pasti jawaban pertama yang disampaikan anak Sekolah Alam Insan Mulia. Bagaimana tidak, belajar mengenal sumber daya alam dari lingkungan sekitar, dengan cara bermain menjadi “Peneliti”.
Setelah sehari sebelumnya ustdaz menjelaskan perbedaan sumber daya alam hayati dan non hayati. 

Hari ini waktunya explorasi!
Setiap anak membawa dua kertas folio, setiap kertas dibagi 2. Lembar pertama berisi sumber daya alam hayati dan non hayati yang ditemukan di lingkungan sekitar sekolah. Lembar kedua berisi tentang observasi lingkungan sekolah dan solusi yang ditawarkan siswa untuk memperbaiki keadaan yang ada.

Bermain menjadi peneliti ini dilakukan selama 45 menit. Lima belas menit pertama untuk kesepakatan peraturan dan penentuan langkah kegiatan.
“Bagaimana sikap peneliti yang baik dan benar?
Pertanyaan yang perlu dijawab sekaligus mengarahkan siswa untuk merumuskan peraturan.
“Tidak banyak bicara, memperhatikan sekitar dengan detail, mencatat hasil pengamatan, menganalisa masalah, dan merumuskan solusi”
“Yes! Aturan yang kita pakai dalam permainan ini sebagai peneliti seperti di atas. Jadi, kalian boleh bertanya sekarang dan setelah ini akan berada di lapangan untuk meneliti lingkungan selama 30 menit”
“Baik Ust”

Satu per satu pertanyaan terjawab dan penelitian siap dimulai. Semua anak menyebar, mengamati, menggambar, mencatat, dan merumuskan tawaran solusi.

Wuuusssh! Tapi di tengah aktivitas kami, ada yang menemukan ular air. Badan ular sebesar jari tengah orang dewasa, panjang kira-kira 10 cm. Beberapa anak mulai berkerumun, ada yang ingin mencoba memegang ular tapi belum berani. Ada yang langsung pegang dan mengelus ular tersebut. Dan ada yang berkeringat dingin karena takut! Deng deng! Akhirnya keringat dingin berakhir dengan kemenangan berani mencoba memegang dan berhasil!!!!!


Namun, masih ada yang sangat ketakutan dan belum berani mencoba. Melihat dari jauh teman-temannya yang mencoba keberanian. Dia memilih menikmati kegiatan menggambar daripada mendekati ular. Kaki gemetar dan hamper berteriak itu sudah cukup menjadi tanda bahwa dia belum siap.


Setelah semua kegiatan selesai, saatnya evaluasi.

“Pelajaran apa saja yang kalian dapatkan dalam kegiatan menjadi seorang peneliti?”

“Belajar lebih peka dan jeli”
“Belajar disiplin”
“Mengatur waktu dan cerdas”
“Peduli lingkungan”
“Bebas berpendapat”
“Mengetahu SDA di sekitar kita”

Dan seterusnya dan seterusnya … Senang berada bersama anak-anak cerdas dan hebat!


Rabu, 17 Februari 2016

KEMBALI KE MASA KERAJAAN MAJAPAHIT


Sejarah tanpa bukti terasa seperti imajinasi tanpa henti. Nah, supaya imajinasi anak didik bisa menemukan benang merah dan melahirkan pemahaman nyata, maka belajar sejarah dan melihat secara langsung peninggalan benda bersejarah menjadi hal yang baik.

Membayangkan berkuda dari satu daerah ke daerah lain, kehidupan dengan perabotan tanah liat, dan peperangan di masa yang jauh dari nuklir dan senapan dengan berbagai jenis senjata modern. Hmm, cukup menjadi moment teleportasi yang melelahkan.  Di kelas 4 SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, selain mempelajari budaya nusantara belajar sejarah kerajaan di Jawa Timur juga menjadi proyek kunjungan belajar.
Daerah kekuasaan kerajaan Majapahit yang dikenal sebagai kerajaan yang memiliki daerah kekuasaan terluas, dengan para raja-raja yang masig selalu menjadi ide cerita perwayangan. Sang Patih kerajaan, Gajah Mada dikenal dengan sumpah Palapanya yang berkeingininan untuk menyatukan nusantara bahkan meluas di tanah Malaysia-Singapura-Brunei. Seberapa sakti ilmu beliau masa itu ya?

Belum lagi berita tentang pencurian benda bersejarah yang marak terjadi, membuat rasa penasaran siswa semakin tinggi. Batu seperti apa yang bisa dijual dengan harga jutaan? Besi apa yang bisa ditukar dengan mobil? Wowowowo … perjalanan kembali ke masa kerajaan Majapahit harus dilakukan.
Berbekal lembar kerja yang telah dibahas dan dipersiapkan sebelumnya, siswa dipandu untuk mencari informasi dan bertanya dengan bebas. Pengetahuan yang tebentang, tersedia di hadapan. Motivasi dan bekal pengetahuan sebelum keberangkatan telah diberikan. Melihat realitas sejarah dan mendokumentasikan adalah kegiatan yang serius tetapi santai.

Belajar hati-hati dan berdo’a selama perjalanan dengan bus yang kami tmpangi, menahan diri untuk tidak gaduh, dan membaca do’a untuk keselamatan semua juga dilakukan. Satu hal lagi, belajar berbagi bekal dan cerita di bus adalah kenanngan tersendiri. Bismillah untuk segala kebaikan. Amin ….

Belajar langsung di tempat kejadian perkara alias TKP juga menyenangkan. Bisa ekspresi dan mengenal lingkungan luar selain berada di sekolah.

Senin, 18 Januari 2016

SEKOLAH ALAM INSAN MULIA SURABAYA

SAIM
Lahirnya Sebuah Pertanyaan
Menulis dua buku, artikel, dan tulisan di surat kabar yang saya tulis tentang tempat belajar yang menjadi rumah kedua bagi anak-anak sepertinya belum cukup untuk memberi penjelasan kepada pembaca tentang sistem pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Alam Insan Mulia. Penjelasan dan berbagi cerita melalui seminar, workshop, dan diskusi selalu menarik perhatian bagi orang lain. Tetapi, para guru di sekolah ini tidak boleh lelah untuk menjelaskan berulang-ulang dan membangun komunikasi dengan para orangtua walimurid yang menjadi bagian dari proses yang dilaksanakan.
Sekolah melakukan kegiatan transfer informasi kepada seluruh wali murid di awal semester, dengan tujuan untuk mempresentasikan program dan informasi yang dibutuhkan satu semester ke depan. Kehadiran para wali murid sesungguhnya sangat penting untuk keseimbangan dan pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya.
Proses belajar di SAIM sebagaimana proses pertumbuhan sebuah pohon besar yang diharapkan mampu melindungi dan bermanfaat bagi sekitarnya.



 
 
Pembangunan karakter dimulai sejak pendidikan dini, mengenal teman, lingkungan sekitar, bermain hingga puas. Pendidikan usia Play Group dan Taman Kanak-kanak adalah moment istimewa yang 500% membutuhkan kerjasama yang sangat baik dengan para orangtua. Memberi teladan dan informasi yang membuat anak memiliki kata “Ya” atau “Tidak”. Selayaknya pohon, disiram, dipupuk, diajak komunikasi, diperhatikan perkembangannya, memberikan treatment ketika ada hal yang kurang sesuai dengan perkembangannya. Kesempatan anak menikmati kehidupan yang bersih dengan bau harum yang akrab di indra penciumannya. Membangun kesadaran diri untuk selalu bersih dan belajar mandiri untuk melakukan toilet training. Inilah gambaran proses yang dilakukan di PG-TK.

KEGIATAN MENARIK PG-TK
Belajar mengaji dan sholat sebagai landasan karakter
- Story telling dan berceloteh
- Menanam sayuran sehat
-Motorik kasar dan motorik halus dengan berbagai kreasi dan kegiatan menyenangkan
- Pentas bulanan, lomba-lomba, dan pengisi acara TV
- Kunjungan ke perusahaan Ice Cream, stasiun kereta, dll
- Bermain hujan dan berkemah di sekolah, dan masih banyak lagi …


Pohon yang baik dan memiliki akar yang kuat ini akan melaju dengan perkembangan batang-batangnya. Oleh karena itu pada jenjang Sekolah Dasar atau SD proses dilakukan dengan Thematic Teaching , Joyful Learning secara integratif. Bagaimanakah hal tersebut dilakukan?
Disain kegiatan, proses, tugas, tanggung jawab, dan segala hal yang dibutuhkan anak dalam usia perkembangan diri telah dipikirkan bukan hanya untuk esok, atau satu bulan ke depan. Namun, proses ini telah dipikirkan oleh banyak pemikiran, observasi, dan kepedulian akan pendidikan 50 hingga 100 tahun mendatang. Para tokoh yang terlibat dalam proses persiapan ini juga memiliki sangat terpercaya. Beliau menginspirasi para guru untuk melakukan segala hal baru yang kreatif dan inovatif. 16 tahun berjalan, sekolah ini masih harus terus berbenah dan evaluasi untuk peningkatan kebaikan dan menjadi sekolah yang Rahmatan Lil Alamin.
Berikut ini hal dasar yang bisa menjadi informasi bagi siapasaja yang ingin mengenal konsep sekolah alam.

Makna sekolah alam:
Ø  MEMPERLAKUKAN ANAK SECARA ALAMIAH
Ø  MENGENALKAN KEHIDUPAN KESEHARIAN SECARA LANGSUNG
Ø  MENGENALKAN ALAM SECARA FISIK( DUNIA TUMBUHAN DAN HEWAN)

Catatan Spesial

Di kelas I pertanyaan “Kamu belajar apa hari ini?” 99 persen jawaban yang keluar adalah; “Bermain”. Ya, memang kelas I menuntaskan permainan-permainan yang ada di jenjang TK. Siswa kelas I hanya berhak bermain dan menikmati uniknya permainan. Belajar di luar kelas, menggambar, bercerita, dan mengunjungi tempat favorit adalah kegiatan yang disiapkan untuk mereka. Mengerjakan tugas secara bersama-sama dan dengan kreativitas yang tak pernah mengenal hukum “Haram”. Mengerti rasa sakit ketika jatuh dan mengetahui kunci memperbaiki kesalahan dengan minta maaf adalah kehidupan yang indah. Rasa penasaran dan ingin mencoba segala hal dengan tanpa memikirkan resiko yang akan didapatkannya.

Proses yang telah dilakukan di PG-TK bukan ditinggalkan, tapi dilanjutkan. Begitu juga peran orangtua pada proses ini. Menjadi sumber informasi, terlihat sebagai orangtua yang cerdas dan penuh dengan kasih sayang. Memberikan kalimat yang penuh semangat, memberi kesempatan jatuh dan merasakan sakit, mengetahui akibat naik ke tempat tinggi dan bagaimana menahan tangis karena malu atau tetap memilih menangis karena malu J. Pohon yang ditanam sedang membutuhkan nuutrisi yang tepat untuk menguatkan batang penyanggah kehidupan ranting dna daung-daunnya kelak.

KEGIATAN MENARIK DI KELAS I:
-          Bermain sambil belajar
-          Kunjungan ke rumah teman
-          Story telling
-          Sodaqoh Ambassador
-          Mengaji bersama dan menghafal surat pendek
-          Kunjungan dalam kota (tempat bersejarah, dll)
-          Membuat media waktu (pagi, siang, malam)
-          Percobaan sains sederhana
-          Menanam sayuran
-          Tantangan presentasi di kelas
-          Belajar baca dan tulis secara alamiah
-          Panggung boneka dan kreasi, dan lain-lain

Di kelas II, kelanjutan proses kelas I dengan perubahan gaya belajar, mengenal guru baru dan bersosialisasi dengan teman-teman yang tak lagi sama seperti tahun lalu. Tugas proyek yang sedikit lebih menantang waktu dan kerjasama. Berkesempatan berbeda pendapat atau melakukan bersama dengan bahagia. Mengunjungi tempat bersejarah dan mempelajari hal baru dari lingkungan sekitar dengan rasa penasaran yang lebih tinggi. Belajar menghadapi masalah meski harus “bertengkar”, “usil”, dan belajar mempertahankan kebenaran yang dia pahami sendiri. Mengetahui emosi marah itu berakibat tidak baik untuk dirinya dan persahabatannya. Mulai berdisiplin dengan memperhatikan loker, menata sandal, dan menata shaf sholat dengan rapi. Pertanyaan: “Belajar apa hari ini?”, masih memiliki jawaban: “Bermain”.

Dalam keunikan ini, peran orangtua semakin meningkat karena kebutuhan akan sosok yang mampu mendukung, menguatkan, sekaligus menjadi partner berdiskusi yang baik. Orangtua tidak bisa hanya melihat dan mengikuti perkembangan anak dari jauh. Semakin proses perkembangan dialami anak, semakin orangtua dibutuhkan untuk mengawal masa pertumbuhan ini dengan baik. Komunikasi yang baik dengan guru, orangtua lain, dan para pakar yang dibutuhkan akan sangat membantu melalui masa perkembangan ini. Thematic teaching secara murni di kelas I dan II sangat membutuhkan ayah dan bunda, untuk bekerja sama dengan ustadz/ustadzah guna mempersiapkan ananda di kelas III yang biasanya di usia ini mereka sudah mulai aneh2 keinginannya menurut orang dewasa. Hal inilah yang disebut kebebasan berpikir dan kreativitas anak.

KEGIATAN MENARIK DI KELAS II:
-          Sodaqoh Ambassador
-          Mengaji bersama dan menghafal surat pendek
-          Story telling
-          Kunjungan dalam kota (tempat bersejarah, perusahaan, visitasi, dll)
-          Percobaan sains sederhana
-          Menginap di sekolah
-          Tantangan presentasi di luar kelas dan wawancara
-          Bermain musik alam dan bahan bekas
-          Menanam tumbuhan herbal dan membuat jamu
-          Belajar di pasar modern dan belajar entrepreneurship
-          Belajar melakukan kegiatan mandiri “Mencuci baju”



Kelas III merupakan kelas yang lebih sering terjadi penolakan dan penerimaan secara “eksrtrim”, merasa bisa namun belum mampu, dan berusaha menjadi kakak kelas yang baik. Di kelas III, sudah mulai belajar mengapa bisa jatuh, apa penyebabnya, dan bagaimana harus mencari pemecahan masalah. Luapan emosi yang tepat dengan kegiatan motorik kasar dan halus mulai dilatih di jenjang ini. Di kelas ini ide kreatif dan imajinasi seakan tak terhenti. Bahkan label “Nakal” kadang tidak sengaja sudah diberikan. Suasana rumah sudah bisa dirasakan anak, begitu juga dengan suasana sekolah. Kenyamanan atas lingkungan yang bersahabat untuknya semakin terasa. Keinginan mencoba sesuatu yang menantang lebih tinggi, nyata, dan bisa memenuhi rasa haus pengetahuan yang dimiliki anak. Nah! Perlu dihindari kalimat-kalimat yang mudah disalah artikan oleh ananda. Pohon ini semakin tinggi dan membutuhkan kekuatan batang yang lebih besar. Pertanyaan: “Kamu belajar apa?”, menghadirkan jawaban: “Ya begitu” atau “Tidak tahu”. J

Menciptakan rumahku surgaku merupakan kerja serius orangtua untuk pembangunan konsep diri yang lebih mantab. Melihat aksi heroik ayah merupakan kesan yang menakjubkan. Merasakan indahnya kasih sayang bunda merupakan sesuatu yang menenangkan. Ijin untuk melakukan suatu kegiatan dan menjadi pribadi yang dipercaya orangtua sudah mulai belajar dibiasakan dengan pendampingan. Dalam kondisi perkembangan ini ayah dan bunda sudah mulai menjadi tokoh yang akan dipilih. Ayah lebih menuruti aku atau bunda yang bisa memenuhi keinginanku? Di sinilah pembagian tugas ayah dan bunda sebagai hakim, juri, pelindung, orangtua, dan kawan harus dijalankan. Peran guru juga sudah harus lebih beragam dan mulai menganalisa ketegasan peraturan apa yang perlu menjadi prioritas dalam kurun waktu yang ditentukan. Orangtua menjadi guru pertama dan guru menjadi tangan panjang dari pelajaran yang telah diperoleh ananda di rumah.

KEGIATAN MENARIK DI KELAS III:
-          Kebiasaan bersodaqoh dan beramal
-          Mengaji bersama dan menghafal surat pendek
-          Story telling dan bercerita kepada orang lain
-          Kunjungan dalam kota (Badan meteorologi, dll)
-          Percobaan sains sederhana dan dipresentasikan (kelompok dan individu)
-          Pergi ke hutan dan menginap di daerah pegunungan
-          Tantangan observasi, presentasi, dan wawancara
-          Belajar di pasar tradisional
-          Memasak sederhana dan berjualan
-          Mendongeng dan belajar aturan melalui dongeng

Kelas IV merupakan kelas tantangan … Dimulainya sebuah petualangan akademik. Dunia pemikiran dan analisa menjadi keadaan yang harus dibiasakan. Dunia PR alias pekerjaan rumah akan sedikit menghiasi hari-hari ananda. Keluhan “capek” bagi yang tidak terbiasa menghadapi hal baru sebagai tantangan mulai diungkapkan. Apalagi anak-anak yang terbiasa dibantu dan belum sempat diarahkan untuk menghadapi tantangan dengan lapang dada. Kegiatan proyek kecil dan proyek besar sudah mulai bermunculan, dan ini mulai menjadi PR juga bagi orangtua. Hmmm, jangan-jangan orangtua juga sudah mulai gusar dan keberatan. Hehehe … Aturan yang lebih jelas dengan konsekuensi yang dirumuskan bersama akan menjadi dasar penegakan kedisiplinan. Kerapian loker dan area kerja menjadi standart pembelajaran sikap cinta kerapian dan kebersihan. Menghormati orang lain adalah prioritas sikap yang harus mulai lebih dekat dengan diri. Kewajiban sholat lima waktu menjadi ukuran kesiapan tantangan yang lebih banyak lagi. Seperti, proyek-proyek beruntun, baik individu maupun kelompok. Materi pelajaran yang semakin bisa dirasakan perbedaannya dengan jenjang sebelumnya, kelas 1-3.

Dalam kondisi yang mulai mengalami banyak perubahan ini, pertanyaan orangtua semakin banyak. Kecemasan orangtua mulai hadir, bahkan bisa jadi tuntutan orangtua secara tidak disadari naik tanpa diminta. Bagi orangtua yang selalu mengikuti perkembangan ananda akan lebih mudah menyadari dan mengikuti perubahan ini dengan bijaksana. Menjalin koordinasi dan diskusi dengan para guru. Jika mengetahui perkembangan ananda tidak sesuai yang diharapkan, tidak perlu panik dahulu. Mari kembali mendekati ananda dan mengurutkan perjalanan perkembangan ananda. Bahkan terkadang melihat perkembangan yang kurang sesuai itu membuat kelebihan dan keistimewaan ananda menghilang. Figur ayah dan ibu semakin kuat diharapkan untuk bisa menjadi teladan dan mengukuhkan pemahaman semua yang pernah dipelajari di kelas-kelas sebelumnya. Peralihan dari kata kelas kecil menuju kelas besar, bisa jadi beban tersendiri dalam diri ananda yang tidak semua sama. Keselarasan pendidikan sekolah dan rumah semakin jadi tantangan. Para orangtua dan guru wajib menyelaraskan langkah dengan program-program bimbingan belajar dengan metode yang menyenangkan. Orangtua meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anaknya secara langsung.

KEGIATAN MENARIK DI KELAS IV:
-          Kebiasaan bersodaqoh dan beramal
-          Mengaji bersama dan menghafal surat pendek(surat yang lebih panjang)
-          Story telling dan bercerita kepada orang lain di depan
-          Kunjungan budaya dan kerajaan di jawa timur (Trowulan-Mojokerto)
-          Percobaan sains dan dipresentasikan (kelompok dan individu)
-          Pergi ke pantai dan menginap di daerah laut
-          English as a daily language
-          Tantangan observasi, presentasi, dan wawancara
-          Menanam hingga panen dengan COOKING CLASS
-          Proyek membuat telor asin
-          Proyek drama kelompok
-          Reading Competition, dan lainnya

Kelas V merupakan kelas pengantar menuju tantangan di akhir jenjang. Ibarat pohon bunga-bunga sudah mulai bermekaran. Jika perawatan kita baik, maka bakal buah juga akan memenuhi standar yang baik. Di kelas V, ananda akan mendapatkan tantangan tugas kelompok dan tugas individu yang semakin beragam. “Cerdas sendirian itu hebat, lebih hebat lagi kecerdasan kita mampu membuka peluang kecerdasan bagi orang lain”. Kalimat motivasi ini disampaikan agar ananda mampu berkolaborasi tugas dan tanggung jawab dengan semua temannya. Tema-tema budaya dan agama dipelajari untuk menumbuhkan sikap toleransi antar ummat beragama. Observasi dan langsung melihat peninggalan sejarah dengan menggali informasi, dilakukan untuk memupuk rasa bangga dengan bangsa dan kebudayaannya. Praktik pembuktian rumus matematika sudah mulai dilakukan agar menemukan misteri matematika yang mulai kelas 1 hingga kelas 4 telah dipelajari secara tematik.

Para ayah dan bunda di jenjang ini terlihat mulai waspada. Perbandingan dengan lingkungan di luar SAIM terkadang tersangkut di pikiran. Bagi yang memahami perkembangan ananda, insha Alloh lebih mudah untuk mengambil keputusan bijaksana. Tetap memberi ruang kepada sekolah dan anak-anak untuk melakukan proses yang semestinya. Bagi yang kekhawatirannya tinggi, sudah mulai mencari guru les, kursus, dan beberapa alternative kegiatan belajar untuk menambah kemampuan akademis anak-anaknya. Suka atau tidak ada orangtua yang mewajibkan kegiatan tambahan ini. Beberapa efek yang lahir adalah semangat belajar di kelas terkadang ada yang berkurang, ada juga yang sebaliknya. Lebih bersemangat menunjukkan peningkatan kemampuan yang dimiliki. Hal bijaksana yang perlu dilakukan adalah, sering mengecek kondisi perkembangan anak pada guru menemukan solusi bersama untuk meningkatkan potensi diri anak. Kesibukan yang berlebihan akan menjadi kendala yang sangat besar namun terkadang tidak terasa. Sehingga keterkejutan-keterkejutan terkadang membuahkan “kecewa” saat target dan standar orangtua belum bisa dipenuhi oleh anak-anaknya. Apa yang perlu dilakukan? Meluangkan waktu untuk belajar bersama dan memahami situasi dan kondisi anak dengan cara pandang anak-anak.

KEGIATAN MENARIK DI KELAS V:
-          Kebiasaan bersodaqoh dan beramal
-          Mengaji bersama dan menghafal surat pendek (surat yang lebih panjang)
-          Story telling dan bercerita kepada orang lain di depan
-          Kunjungan budaya kerajaan Hindu – Budha di Jawa Tengah
-          Percobaan sains tentang teknologi sederhana dipresentasikan (kelompok dan individu)
-          English as presentation skill
-          Tantangan observasi, presentasi, dan wawancara
-          Proyek drama kelompok
-          Girls Class and Special Discussion
-          Tantangan mempresentasikan bacaan


Kelas VI, masa memilih jalan untuk menyongsong kesuksesan dengan sempurna! Kegiatan selama semester I masih melanjutkan proses kelas V. Belajar dengan bahagia dan menikmati proses tanpa terganggu ujian akhir secara nasional. Program homestay untuk memupuk empati dan menghormati kondisi keluarga yang tinggal di desa menjadi latihan kepemimpinan dan pelatihan toleransi tingkat tinggi. Melakukan hal yang mungkin dirasakan berat dan tidak disukai, menjadi pilihan terakhir untuk melaksanakan sikap tanggung jawab. Kegiatan akademis di kelas VI ditata juga untuk persiapan menghadapi tantangan pemikiran tingkat nasional. Semester II dicanangkan program pengayaan latihan soal dan membahas dengan detail. Ananda dianjurkan untuk lebih sering berolahrara dan melaksanakan ibadah sunnah sebagai motivasi untuk meraih ridho Alloh dalam pelaksanaan setiap proses tantangan. Kedewasaan berpikir dan kepandaian manajemen diri sedang dipertanyakan di kelas ini. Memilih santai atau rajin dengan gembira untuk menyiapkan diri? Itu pilihan yang sangat membutuhkan motivasi dari luar diri anak.


Pendampingan yang dilakukan orangtua secara berkelanjutan akan menjasi sumber energi positif bagi ananda. Sosok ayah dan bunda semakin mewarnai pilihan-pilihan yang diambil. Diskusi sebagai teman belajar dan orangtua yang kasih sayangnya memberi kepercayaan bahwa ananda MAMPU adalah kunci pertama di kelas ini. Rasa khawatir yang berlebihan dan mencarikan kegiatan kognitif akademis, terkadang belum tentu hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Maka, jalan bijaksana yang ditempuh adalah mendampingi dan memantau perkembangan kemampuan dan perilaku ananda. memberi dorongan semangat dan lebih banyak menciptakan rasa nyaman belajar merupakan factor pendukung. Melatih kemandirian dan manajemen diri ananda dengan berbagai cara kreatif sangat diperlukan di jenjang ini.

KEGIATAN MENARIK DI KELAS VI:
-          Kebiasaan bersodaqoh dan beramal
-          Menuntaskan hafal juz 30 bagi yang mampu
-          Homestay di desa
-   Praktik pada hampir semua kemampuan yang telajh dipelajari di jenjeng kelas 1-6 (kelompok dan individu)
-          English as presentation skill
-          Tantangan observasi, presentasi, dan wawancara
-          International Exhibition
-          Girls Class and boys class “Special Discussion”

Ini adalah catatan kecil yang inovasinya tiada henti. Tulisan ini akan terus berkembang, bisa ditambahkan oleh pelaku pendidikan lain. Sekolah Alam Insan Mulia mencoba untuk menghadirkan iklim pendidikan yang  ramah, kreatif, dan kekeluargaan dengan batasan-batasan yang yang ditentukan bersama. Membangun komunikasi dan kerjasama dengan walimurid sebagai partner in learning.

PROGRAM BERSAMA DI SD SEKOLAH ALAM INSAN MULIA
1.      Leadership Camp
2.      Ramadhan Camp
3.      Outbound Training
4.      Peringatan hari besar Islam
5.      Peringatan hari besar Nasional
6.      Pameran Seni dan Sains
7.      Pentas bulanan
8.  Mendatangkan Intern sebagai tutor dan patner belajar bahasa inggris
9.      Pameran sekolah di luar lokasi sekolah
10.   Charity program

NOTES:
No homework design adalah pola pendidikan yang diterapkan di SAIM. PR berupa wawancara dengan ortu atau PR yang dibantu orangtua bertujuan untuk menjalin keakraban anak dan orangtua. Masih banyak juga program insidentil yang melibatkan orangtua dan siswa sekolah lain untuk bergabung. Selamat menikmati tulisan ini, semakin bingung, semakin penasaran? Mari datang ke sekolah dan diskusi secara terbuka untuk kemaslahatan bersama.

Di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya juga akan kita temui anak-anak ISTIMEWA yang selalu menjadi pengukur keikhlasan dan amanah baik orangtua maupun guru. Ya autism, ADHD, kekurangan pendengaran, dan beberapa keistimewaan lain. MEREKA adalah SUMBER INSPIRASI dan KEINDAHAN AKHLAK. 
Anak-anak istimewa ini ada dalam setiap kelas. Mereka menjadi sahabat dan pelajaran bersyukur atas kehidupan yang sempurna. Mengasah hati dan perasaan kami menjadi lebih lembut. Memahami setiap kesulitan itu belum seberapa jika tanpa cinta Alloh SWT.
Sungguh pendidikan dari kandungan hingga liang lahat. Bismillah ...

Januari, 18, 2016
Guru,
Hamdiyatur Rohmah