Setelah dua hari berkutat membaca buku tentang "SUKSES dan GAGAL" aku jadi mengingat cerita masa kecilku. Begitu banyak hal yang telah kualami untuk mengerti arti gagal dan mungkin banyak orang yang akan mengatakannya sebagai sebuah "Penderitaan".
Bagaimana tidak, untuk menikmati nasi setiap hari itu belum tentu. Memiliki alat tulis lengkap saja harus membantu tetangga memungut jambu monyet, kemudian diberi upah dan aku baru akan menikmatinya dengan membeli alat tulis.
Hmmm, sebenarnya bukan karena emak dan abahku tidak punya uang untuk membeli. Tetapi kami sangat berhemat untuk kepentingan "hidup" saat itu. Itu artinya sama saja ya? Hehehehe....
Membaca buku yang ditulis Michael Lum. Y membuat aku kembali melihat sekeliling juga.
Menjadi guru sepertinya membuat aku semakin detail dalam melihat hal-hal yang "biasa" terjadi. Berkumpul dengan anak-anak yang serba berkecukupan, merupakan tantangan tersendiri dalam mengenalkan arti "gagal" dan bahkan mungkin arti "penderitaan".
Secara fisik materi, aku cukup "susah" memberi gambaran yang jelas. Meminta mereka untuk membayangkan jika suatu saat, harta benda yang mereka nikmati saat ini akan hilang ternyata agak "sulit". Hehehehe ... Mungkin karena selama ini apa yang mereka inginkan selalu terpenuhi.
Mengajak mereka ke tempat yang "melas" cukup menyentuh di tempat itu. Ketika kembali ke kehidupan normal mereka, pelajaran empati itu sedikit demi sedikit beralih.
Kertas, buku, pensil, penghapus, sandal, sepatu, tepak, dan banyak lagi benda-benda yang kembali tergeletak di lantai dan tidak ada yang "mengakuinya". :(
Ketika itu terjadi, aku kembali mengingatkan dengan bahasa yang tegas.
"Mungkin hidup kalian saat ini terlalu enak, jadi kehilangan sesuatu yang berharga menurutku saat di usia kalian. Ini bukan sesuatu yang berharga! Jika saja kalian berani mengambil keputusan untuk merelakan diri dengan hidup yang serba "terbatas" mungkin kalian baru akan berpikir untuk lebih peduli dan menjaga barang-barang kalian".
kalimatku terlalu panjang untuk penjelasan kepada anak SD kelas 5 :( (huuuuftttt ....)
Mungkin saat ini aku mengalami masa yang paling ngetrend "Galau"... hehehe ... Atau karena pada jam pertama kami sudah bermain peran dan mengekspresikan berbagai "perasaan", jadi kebawa deh!
Ya sudahlah, semoga semua yang kami lalui adalah pembelajaran yang akan membuat kehidupan kami lebih bermakna. Semoga para orang tua juga menyiapkan anak-anaknya untuk berpetualang dan merasakan berbagai kenyataan hidup.
Dalam buku Michael ditulis, ada seorang wartawan yang melakukan wawancara kepada seorang yang kaya raya, pokoknya tajir deh! Disela wawancara si Ayah mengatakan, saya ini sudah tua dan saya akan mewariskan seluruh harta kekayaan saya kepada anak saya satu-satunya. Namun, saya merasa takut? Kira-kira apa yang ditakutkan si Ayah? Ada yang bisa jawab? ...... Ditunggu ....
Senin, 18 Februari 2013
Sabtu, 02 Februari 2013
MONOLOG? AKU TIDAK SABAR!!!
"Monolog itu apa sih?", Farrel sudah tidak sabar untuk
mendengarkan penjelasan arti kata monolog. Yap, kami sedang mempersiapkan
sebuah proyek MONOLOG sebagai wujud kompetensi verbal. Kompetensi ini kemudian
disandingkan dengan kompetensi lain, kompetensi sosial yang sedang mempelajari kebudayaan
Indonesia, Akidah Akhlak yang bisa memasuki semua ruang kompetensi dengan
tujuan menemukan sisi spiritual di setiap kompetensi.
"Monolog itu sebuah pementasan tunggal, seorang aktor yang
berakting sendirian di panggung pementasan. Kali ini kalian bebas memilih, mau
jadi presenter, dalang, pendongeng, atau aktor berperan ganda.", aku
menjelaskan arti monolog tanpa melihat kamus bahasa Indonesia. :)
Fokus utama dari proyek monolog ini adalah, anak-anak menikmati
proses pembuatan naskah dengan ide mereka masing-masing yang akan dipentaskan
sendiri. Ini adalah pilihan dan proses yang cukup menantang bagi
anak-anak.
Fokus kedua adalah, kepercayaan diri dan keberanian
mengekspresikan ide cerita dalam sebuah pementasan nyata.
Fokus ketiga adalah, anak-anak mampu belajar secara integrated dengan segala kemampuan yang mereka miliki. meramu informasi, menuangkan menjadi ide naskah, melatih keberanian, memilih tema, dan banyak lagi kemampuan yang diperlukan untuk siap mengahdapi proyek ini.
Pada awalnya mereka merasa bahwa proyek individu ini tidak bakal "menggetarkan nyali". Untuk
membuat menciptakan sebuah fokus, kedisiplinan, tanggung jawab, dan imajinasi yang
lahir dari diri sendiri, maka kami memutuskan untuk membuat panggung mini di
selasar kelas. Sebenarnya awal rencanaku, panggung akan dibuat di lobby. Namun,
untuk beberapa situasi yang kurang pas kami memutuskan panggung berada di
selasar kelas kami yang selalu dilewati banyak orang.
Itu berarti setiap orang yang lewat akan berkesempatan untuk
melihat karya mereka. Pentas kami lakukan juga di saat anak-anak
menikmati waktu istirahat. Para penonton boleh membawa makanan dan minuman
sambil menonton pementasan monolog kelas 5.
Proses pementasan dibagi menjadi 3 tahap. Hari pertama: Selasa, 29
Januari 2013 adalah pementasan pertama. Peserta di hari pertama terlihat cukup nervous
saat persiapan menuju panggung.
Satu demi satu para peserta mempersembahkan monolog mereka. Aku
meminta Dega untuk menjadi host atau pembawa acara pada putaran pertama ini. Aku
hanya ingin menikmati dan memberi nilai pada pementasan mereka. Cara Dega
memilih acak naskah para peserta cukup membuat tegang para penonton. Murid Australiaku
sudah terlihat tegang, berharap bahwa gilirannya masih akan lama.
Yes! Time for Didi!!! And the audience gives a thousand applause for
her! J
Selangkah demi selangkah Didi maju ke panggung. Anak-anak yang
lain siap mendengarkan. Yap! Didi adalah anak yang sangat jarang terdengar
suaranya. Kemampuan bahasa Inggris yang melebihi kemampuan berbahasa Indonesia
membuatnya ragu untuk presentasi dalam bahasa Inggris. Mungkin dia takut jika
teman-temannya tidak mengerti ceritanya. Tenang Didi, kami ini siap dengan
segala suasana. Butuh untuk berbahasa Inggris? SIAP! Butuh untuk mencangkul? SIAP!
Butuh imam Sholat? SIAP! Hehehe ….
Kalimat demi kalimat diucapkan Didi dengan cukup keras. Dia bercerita
tentang kucing yang gemuk, makan apapun yang ada dihadapannya. Ketika sampai
pada kalimat kedua yang sama, and now, I am going to eat you! Semua anak
tertawa. Akhirnya, kalimat itu menjadi kalimat yang dihafal dengan baik oleh
teman-teman Didi. Didi pun terlihat semangat bercerita.
Belajar dari pementasan pertama, anak-anak di pementasan kedua
terlihat lebih siap berakting. Meski hampir semua peserta tetap memegang dan
membaca naskah, namun suara mereka sudah terdengar lebih lantang dan menguasai
panggung. Sudah ada yang berhasil memerankan dua bahkan sampai tiga tokoh dalam
sebuah naskah. Usaha membawa property pendukung cerita sudah terlihat di
pementasan kedua ini.
Pada pementasan ketiga, banyak teman yang sudah ditunggu-tunggu
ceritanya. Ifal yang terkanal dengan kelucuan dan kepedeannya benar-benar sudah
membuat teman-temannya terhibur. Farrel dengan segala pertanyaannya, telah
membius penonton dengan acting memerankan tiga tokoh dengan sempurna
untuk ukuran pementasan perdananya. Dia membuktikan rasa tidak sabar dan komentar-komentarnya tentang pementasan kawan-kawannya yang dinilai belum maksimal dalam berekspresi. Dan Farhan, tanpa naskah dia dipanggil ke
panggung bercerita tentang “NEGERI TIDAK BISA” dengan sempurna.
Sungguh luar biasa!!! Ada sih beberapa anak yang masih demam
panggung, itu kewajaran yang suatu hari nanti PASTI akan berubah menjadi sebuah
persembahan yang SPEKTAKULER!
Aku ingin mengutip kalimat bang Andrea Hirata, penulis Tetralogi
LASKAR PELANGI untuk menutup ceritaku.
Teruslah berkarya, dan karyamu yang akan mencari
jalannya sendiri!
Rabu, 23 Januari 2013
PERJALANAN BUKU KLK
ANTI BIROKRASI YANG SANGAT NASIONALIS
Bertemu dengan seorang musisi kondang Mas Slamet A. Sjukur
adalah sebuah anugerah. Kami dipertemukan beliau dalam sebuah gambaran
pendidikan yang berkualitas. Saya sebut demikian, karena beliau mendengar
cerita Sekolah Alam dari Pak Martasi dan langsung ingin dating berkunjung. Kerinduan
pada sebuah suasana pendidikan yang asri, akrab, dan penuh persahabatan
ditemukan di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya.
Kedatangan beliau pertama melahirkan banyak pertanyaan yang
bisa dijadikan sebagai bukti “Kehausan Ilmu” meski beliau sudah melanglang
buana ke beberapa Negara. Sikap nasionalisme yang tertanam dalam diri Mas
Slamet membuat beliau ingin menyelamatkan bangsa ini dari system yang mbulet
dan kadang “tidak masuk akal”.
Hadiah kecil buku Kelasku Laboratorium Kehidupan, membuat
beliau terkesan dengan isi yang sederhana namun menggambarkan suasana yang
begitu bersahaja. Sebagai penulis, saya bangga mendengar tanggapan beliau. Di sisi
lain, saya harus berusaha untuk melanjutkan sekuel buku KLK episode selanjutnya.
Bertandang ke kediaman mas Slamet PASTI akan banyak ilmu
yang kami dapatkan. Duo Kanjeng (Saya dan Wuri) siap berguru dan berbagi
cerita. Hujan tidak hadir kemarin, membuat kami segera menemukan alamat yang
diberikan.
Rumah di tengah kota, bertetangga yang cukup padat, gang
kecil, membuat saya pribadi berpikir bahwa Mas Slamet PASTI memiliki sisi
kepribadian unggul. Ketika kami agak bingung dengan parker sepeda motor,
seorang ibu datang dan mempersilakan untuk parker di depan rumah beliau.selanjutnya
si ibu mengarahkan kami ke rumah mas Slamet, “Lurus saja sampai ujung mbak,
nanti di atas pintu itu ada belnya. Pak Slamet piano kan?”. “Iya Bu, matur
suwun”, aku menjawab si Ibu baik hati.
Kami mengamati bel yang dikatakan si Ibu. Ada beberapa
tulisan “BEL” untuk memberi informasi kepada siapa saja yang ingin bertamu. Aku
memegang tali bel dan kutarik. Pada tarikan ketiga aku mendengar langkah kaki
mendekati pintu.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dalam diriku. Pertama kali
bertemu dengan beliau aku merasakan energy yang luar biasa. Semangat pantang
menyerah dan “Inilah Saya” begitu kuatnya. Apakah karena beliau juga cacat kaki
seperti abahku yang membuatku merasa begitu dekat. Atau bahkan pancaran
semangat itu yang selalu kukenal dari Abahku. Bahagia dan selalu ingin berbagi
cerita.
Setelah kami duduk, aku langsung diberi beberapa lembar
kertas. Lembar pertama berisi fotokopi tulisan opini Mas Slamet tentang
pendidikan. Satu bendel lagi tentang partitur pementasan music dengan alat
kentongan atau alat yang terbuat dari bambu.
Pembicaraan kami mengalir sangat lancar. Mulai dari
pengalaman kami masing-masing. Kami berlima, Mas Slamet, Mbak Gema, Wuri, aku,
dan Mas …. (maaf aku lupa namanya), padahal nama ini disebut berkali-kali,
entah … aku bisa lupa.
Pribadi yang luar biasa, kuat, dan idealis. Itu gambaran
yang kulihat pada setiap kalimatnya. Beliau menghafal hampir seluruh isi buku
Kelasku Laboratorium Kehidupan itu diluar dugaan. Beliau membeli 8 eksemplar
buku dari Toga Mas Diponegoro. I am speechless. Memandang kagum
semangat dan impian akan sebuah iklim pendidikan yang luar biasa.
Adzan maghrib terdengar, kami harus segera mengakhiri
diskusi kami. Semoga lain waktu kami dipertemukan kembali dengan semangat yang
lebih baik lagi untuk mempersembahkan karya terbaik.
Sampai jumpa lagi J
Jumat, 18 Januari 2013
SEPENGGAL PELAJARAN DARI MURIDKU SAAT PROYEK PRESENTASI PROFESI ORTU
Ada juga yang berinisiatif membuat power point. Itu lebih
mencengangkan ketika ada anak yang membuat materi power pointnya memukau dengan
penjelasan yang sangat detail. Bahasa anak-anak yang polos membuat
presentasinya semakin menarik.
Aku menemukan keberanian-keberanian yang terhalang oleh rasa
malu, was-was, takut salah, dan takut tidak diperhatikan. Aku menemukan
kalimat-kalimat pujian memukau untuk mama-papa mereka. Aku menemukan raut wajah
sedih, senang, bangga, sekaligus wajah absurd saat anak-anak melakukan
presentasi.
Saat menunggu murid-murid datang di depan pintu gerbang,
seorang murid lelakiku datang. Ia berusaha
menghafalkan materi presentasinya. Dia mendekatiku dan mencari ketenangan dan
keyakinannya. Aku hanya berusaha untuk tidak mengerti keresahan itu.
Murid istimewaku yang terbiasa di luar kelas, kali ini
presentasi dengan bahasa Inggris. Semua anak bertepuk tangan tanpa diminta.
Saat persiapan presentasi, seorang murid berbahasa asingku
mendekat. Dia tidak mau aku mengabadikan moment tantangan presentasi pertamanya.
Tangannya yang dingin, wajah yang sedari tadi terlihat hawatir, menarik nafas
berkali-kali berusaha menenangkan diri. Aku berdiri di sampingnya, dia sedikit
terasa bersandar. Aku berkelakar untuk menenangkannya.
“Oke, aku akan menterjemahkan presentasi Didi dengan bahasa
Arab”.
Dia tersenyum renyah, anak-anak yang lain tertawa kemudian
meminta. “Bahasa Jawa saja Ust?”
“Baiklah, aku akan menterjemahkan presentasi Didi dengan bahasa
Jawa”
Sandaran Didi sudah terasa lebih longgar, berarti dia sudah
lebih santai. Aku mengawali ucapan salam, dan Didi melanjutkan. “Assalamu’alaikum
Warohmatullah Wabarokatuh”. Semua teman terdiam.
Kata demi kata
diucapkan dengan sangat indah dalam bahasa Inggris. Aksen Australianya yang
sangat kental, membuatku terpukau. Ini kali pertamanya bicara hampir 5 menit di
depan public. Luar biasa!!!
Seusai presentasi, dia terlihat sangat lega. Suaranya hampir
terdengar seharian kali ini. Candaan temannya juga membuatnya penasaran dan
ingin mengetahui hal yang disebut “rahasia” oleh temannya.
Alhamdulillah, luar biasa efek yang dilahirkan dari kegiatan
ini. Berikutnya kami mengevaluasi kegiatan. Aku segera memberi pertanyaan.
Bagaimana pendapat kalian tentang kegiatan Presentasi kita?
1. Masih banyak anak yang tidak memakai baju/seragam orang
tuanya.
2. Seharusnya presentasi bisa selesai dalam 2 hari, tapi
karena ada yang tidak masuk maka jadi 3 hari deh.
3. Menurutku, selalu ada pertanyaan yang sama.
4. Masih ada yang tidak PD, aku sebenernya jg tidak tapi
akhirnya biasa saja.
5. Ada yang sudah membawa property, tapi menurutku mereka
belum menggunakannya dengan baik.
6. Ini kan presentasi tentang orang tua kita, tapi aku lihat
masih ada yang kurang yakin dengan presentasinya.
7. Jangan bergantung pada catatan kita. Biar jawaban kita
bisa lebih luas.
Dan masih banyak lagi evaluasi yang keluar dari
ucapan-ucapan mereka
Aku melanjutkan ke pertanyaan kedua.
“Menurut kalian, manfaat apa saja yang sudah kalian dapatkan
selama proses mengerjakan proyek ini?
1.
Belajar berani berbicara di
depan umum
2.
Belajar menjadi pendengar
yang baik
3.
Harus bisa mengukur volume
suara saat presentasi
4.
Mengenal ayah dan ibu lebih
dekat
5.
Aku jadi mengenal betapa
papa itu berjuang keras untuk anak-anaknya dan mama
6.
Lebih menghargai orang tua dan merasakan
menjadi mereka
7.
Harus bersyukur karena papa
dan mama selalu menyayangi kita
Banyak lagi pendapat yang tidak bisa kutulis satu persatu. Evaluasi
kami akhiri karena jam ektrakurikuler sudah dimulai.
Aku bangga pada kalian murid-muridku!!!
Dan aku belajar dari kalian.
Saat hari dimana kusebut sibuk atau lapang, semoga Allah SWT selalu menggelitikku agar mampu berdo'a untuk kedua orang tua dan keluargaku.
Saat hari dimana aku dibutuhkan, aku semoga Allah SWT mengirimkan seluruh kebaikan dan memberiku kemampuan untuk menyebarkannya.
Saat orang mempercayaiku, semoga Allah SWT memberiku kekuatan Iman dan Islam untuk membuktikan bahwa gelar Rasulullah Muhammad SAW "Al-Amin" adalah utama bagi setiap insan.
Saat hari dimana kusebut sibuk atau lapang, semoga Allah SWT selalu menggelitikku agar mampu berdo'a untuk kedua orang tua dan keluargaku.
Saat hari dimana aku dibutuhkan, aku semoga Allah SWT mengirimkan seluruh kebaikan dan memberiku kemampuan untuk menyebarkannya.
Saat orang mempercayaiku, semoga Allah SWT memberiku kekuatan Iman dan Islam untuk membuktikan bahwa gelar Rasulullah Muhammad SAW "Al-Amin" adalah utama bagi setiap insan.
Saat dimana aku menjadi orang yang dikenal banyak
orang, semoga Allah SWT masih menjadikan aku sebagai orang yang peduli.
Saat hari dimana aku menjadi orang yang memiliki banyak
harta, semoga Allah SWT menyiram hatiku untuk mendahulukan berbagi.
Saat dimana aku menjadi orang dengan jadwal padat, semoga
Allah SWT menjaga hati dan pikranku untuk tetap melakukan silaturahmi dengan
banyak orang.
Amin Ya Rabbal Alamin …
Minggu, 06 Januari 2013
BERPIKIR POSITIF DI NEGERI NEGATIF
(Kali ini mencoba nulis serius )
Berbagi
kebahagiaan dengan orang lain adalah perbuatan yang mulia. Memberi santunan
kepada fakir miskin adalah anjuran agama. Bersedekah dan beramal adalah wujud
rasa syukur yang sebaiknya hanya antara hamba dan Tuhannya.Di negeri ini banyak
orang yang berniat baik dan sudah mewujudkan kebaikan itu. Namun, segala niat
baik itu akhirnya berwujud antrian sangat panjang, berdesakan, terinjak-injak,
pingsan, bahkan kehilangan nyawa para penerima kebaikan tersebut.
Mari
kita lihat kembali beberapa kejadian yang ditayangkan di televisi maupun yang
dimuat hampir di semua surat kabar di negeri ini. Pelaksanaan pembagian zakat,
pembagian hewan qurban, hingga acara Open
House dengan Presiden telah melahirkan realita yang memilukan. Terlepas
dari sisi politik yang kadang dibahas secara detail di media elektronik, telah
menjadikan moment-moment tersebut melenceng dari niat baiknya. Akhirnya, yang
terlihat adalah betapa banyaknya warga Negara ini yang hidup di bawah garis
kemiskinan. Atau bahkan yang sangat disayangkan adalah budaya menadahkan tangan
akhirnya terjadi setiap tahun.
Bagaimana
kalau pemandangan itu kita minimalisir dengan mengubah cara pandang kita? Dengan
berlogika terbalik bahwa kondisi “miskin” yang dirasakan setiap orang sebagai
kondisi yang selalu kekurangan, dirubah cara pandangnya menjadi kondisi yang terhormat
dan bermartabat? Dengan demikian, si kaya akan benar-benar memuliakan si miskin
dengan mengulurkan tangan kanannya untuk memberi tanpa diketahui oleh tangan
kirinya. Begitu pula si miskin, akan merasa dimuliakan, karena kondisi
kemiskinannya tidak membuatnya harus menadahkan tangan.
Saya
berpikir, ketika membaca spanduk yang dipasang di jalan-jalan dengan kalimat
kurang lebih bermaksud seperti ini: “Memberi uang kepada anak jalanan,
pengamen, dan sejenisnya berarti membantu kemiskinan di negeri ini”. Atau
dengan kalimat singkat: ”Anda memberi, menyuburkan kemalasan”. Bagi saya,
spanduk yang dipasang itu sebenarnya bukan sekedar larangan atau sekedar
himbauan. Menurut saya, spanduk itu mengajarkan banyak hal diantaranya: Jangan
bangga menjadi pengangguran, berusahalah untuk memperbaiki kehidupan, hargailah
diri dengan prestasi, dan sampaikanlah kebaikanmu pada tempat dan kondisi yang
benar. Dengan berlogika terbalik, buatlah spanduk dengan tulisan: “Gemah ripah
loh jinawi, hasil karya setiap warga di negeri ini”. Amin …
Berlogika
terbalik dalam kondisi kekurangan, sama halnya dengan melatih sikap positif
dalam setiap hal dan kondisi. Jika hidup membutuhkan kebiasaan, maka biasakanlah
diri bersikap positif. Karena sikap itu yang akan memberikan rasa tangguh dalam
menghadapi segala kondisi. Sehingga ketika seseorang sedang berada pada posisi
si kaya, ia akan membiasakan dirinya tangguh dalam kekayaan dan tidak akan
sulit baginya untuk berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Dan suatu ketika
saat berada dalam posisi si miskin, ia akan membiasakan dirinya tangguh bekerja
keras untuk tidak terpuruk pada kondisi ini. Berpikir positif menjadikan orang
cerdas dalam mencari jawaban atas peristiwa yang dialami.
Hampir
sempurna pelajaran menjadi warga yang merasa “kurang” di Negeri kaya ini.
Bayangkan saja, dari masa penjajahan Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang yang
ingin mengambil kekayaan segala sumber daya di negeri tercinta ini. Kemudian dilanjutkan
dengan perpecahan di negeri sendiri dengan beragam sebab. Misalnya; keinginan
suatu daerah lepas dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), merasa tidak
cocok dengan Pemimpin, akhirnya “memberontak” bahkan sampai “menggulingkan”
kekuasaan, dan lainnya. Yang tidak ditolak adalah ketika Tuhan member pelajaran
kepada kita dengan menunjukkan feomena alam yang berwujud “bencana” yang sudah
rata dialami semua provinsi di Negara kita. Masih kurangkah pelajaran tersebut?
Setelah
melihat ulang kejadian yang memilukan, kita coba pelajari beberapa peristiwa
yang adem-ayem saat niat baik berbagi
rezeki itu terjadi. Ketika sebuah daerah mengalami bencana alam, mereka harus kehilangan
harta benda dan kehilangan keluarga.
Kemudian di saat yang sama mereka harus memilih meninggalkan harta benda
untuk menyelematkan diri dan bertahan hidup dalam pengungsian.
Perasaan
senasib sepenanggungan pada setiap jiwa, ternyata melahirkan keeratan hati.
Sebagai wujud yang indah terciptalah kerja sama, jiwa saling menolong, saling
melindungi, dan kepedulian banyak pihak menjadi pemandangan yang sungguh
menyentuh. Para dokter rela meninggalkan tempat nyamannya untuk bersama-sama
memberikan manfaat. Jiwa-jiwa relawan muncul dan memberikan pelayanan terbaik
kepada para korban. Dan masih banyak lagi kebaikan yang terlahir dalam kondisi
tersebut; penggalangan dana yang dilaksanakan hampir semua elemen masyarakat.
Sepertinya “perasaan senasib sepenanggungan” menjadi kunci bahwa rasa “miskin”
itu menjadi tiada.
Pada
peristiwa lain kita juga bisa kita pelajari (maaf sedikit berpolitik). Ketika
masa pemilihan pemimpin, baik di tingkat desa, kecamatan, kabupaten/ kota
madya, provinsi, sampai Negara ada istilah “serangan fajar” muncul mewarnai
panggung kehidupan tersebut. Dari sisi positif, para calon pemimpin tersebut
ingin berterimakasih kepada para pendukungnya yang bersedia mempercayakan
tampuk kepemimpinan tersebut di pundaknya. Hasilnya, saat penyaluran niat baik
itu tidak perlu antrian panjang dan tidak menyebabkan adanya korban
terinjak-injak apalagi kematian. Mungkin karena sikap menghargai yang
diciptakan oleh calon pemimpin tersebut, dengan memberikan bantuan secara
sembunyi-sembunyi itulah yang meminimalisir korban. Jika ada masalah yang
muncul, lebih ke pertanggung jawaban individu bukan?
Dari
beberapa peristiwa tersebut, ada baiknya cara penyaluran zakat dan daging
kurban atau semacamnya ditinjau kembali cara penyalurannya. Yang saya ketahui dengan
cara orang desa, mereka membuat kepanitiaan yang bertugas mengurus dari awal
hingga penyalurannya ke rumah warga yang diantarkan secara langsung. Sistem
kedua yang saya pelajari selama menjadi panitia penyaluran zakat dan semacamnya
di sebuah lembaga pendidikan di Surabaya, panitia yang terdiri dari guru dan
murid tiga hari sebelum pelaksanaan kami menjelajah area untuk membagi kupon
kepada yang berhak menerima. Saat pelaksanaan kami sudah perhitungkan waktu dan
jumlah kupon yang disebar agar tidak terjadi antrian panjang. Alhamdulillah,
dengan cara ini kami sukses selama Sebelas tahun sampai saat ini.
Mungkin
saya terlalu sederhana mencontohkan dengan skala pengalaman di atas. Saya
berpikir, ketika penyaluran itu akan dilaksanakan (tanpa mengetahui realitas
yang sesungguhnya) dalam lingkungan yang lebih luas, maka kepanitiaan yang
professional dan memadai, perhitungan waktu dengan kuota yang dipastikan, serta
adanya kerja sama yang baik dalam lingkungan tempat tinggal, maka antrian
panjang dan pemandangan memilukan tidak akan terlihat lagi. Istimewa, jika
panitia tersebut bisa mengantarkan langsung di tempat tinggal penerima sedekah.
Semoga Jakarta dan kota besar lainnya berlogika terbalik dengan peristiwa ini.
Wujudkan bersama!
Jumat, 28 Desember 2012
Beach Observation
We proud to be a fourth grade. Why? Because in a fourth grade we have beach observation. And we will monitoring our program until the next year. The next fourth grade will continuing the program.
Our program are; Study how to make a ice block, interview in a fish auction, live in a village, and beach observation (water, beach habitat, and mangrove).
We are not only monitoring water but also the beach environment. Pollutant in a sailor village still a big problem. Especially for ocean's water.
Oil and garbage made water dirty and stink. It means, that is not health environment.
One more program, we have a new team in the village. Students from village. They plant together with us.
Sabtu, 15 Desember 2012
PIKIR DAN HAWATIR
Setelah semalaman diguyur hujan, bau sedap tanah masih tercium dalam setengah sadarku. Ketika adzan Subuh berkumandang. Mataku dan hatiku masih berdiskusi untuk segera beranjak menuju kamar mandi, atau menuruti tubuh yang masih tergeletak. Mungkin karena suasana dingin masih menyelimuti, jadi tubuhku ingin memanjakan diri. Sedetik kemudian bunyi sms di hp ku memaksa mataku untuk membacanya. "Apakah anda jadi jalan-jalan pagi?".
Sejenak aku mengingat janjiku untuk jalan-jalan pagi jika hujan tidak turun. Akhirnya, aku menjawab sms tersebut, "Ya Pak, pukul 04.45 saya berangkat".
Aku bergegas bangkit dan menuju kamar mandi, membersihkan muka, kemudian berwudlu. Setelah selesai sholat dan persiapan jalan pagi cukup, aku mengambil sepatu usangku. Hmmm, terlalu lama aku tidak memakai sepatu ini, berdebu, dan hampir tidak cukup. Aku bersihkan ala kadarnya, karena aku akan memakainya jalan pagi.
Perjalananku cukup panjang, kira-kira 3 Km (kalau salah kira ya maaf), hehehe. Sebelum mulai perjalanan aku melakukan warming up terlebih dahulu. Aku juga membawa hp dan sejumlah uang untuk kepentingan di jalan. Tepat pukul 04.45 aku mulai perjalananku.
Keluar dari pagar, aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Berpikir memilih jalan mana yang akan kuambil. Jika ke kanan berarti aku akan melewati perumahan besar dengan gedung-gedung bak istana, sepi, dan aku sendiri di pagi hari yang masih diselimuti mendung.
Kalau aku ambil jalur kiri, aku akan melewati persawahan, rumah penduduk, pemakaman umum, Liponsos, dan tambak. Aku tidak yakin itu juga akan ramai, karena mendung masih mampu membuai mimpi bagi yang ingin bermalas-malasan di hari Minggu.
Aku akan ambil jalan yang kiri dengan segala resikonya. Aku mulai perjalananku, seperti biasa selalu ada lafadz-lafadz yang muncul tanpa aku panggil setiap aku melakukan perjalanan sendiri. Aku belajar menikmati perjalan pagi dengan mendungnya. Sampai di persawahan, dari belakan aku mendengar suara sepeda yang dikayuh. Sebenarnya aku tidak ingin menoleh, tetapi untuk keamananku aku harus memastikan.
Aku menoleh ke belakang, kulihat seorang lelaki muda mengayuh sepeda. Aku segera meluruskan pandangan dan sedikit bergegas dengan lari kecil.
Sebenarnya, selintas aku mengingat sebuah kejadian dimana tepat di area persawahan ini, pernah ada kejadian mutilasi. Huuuuuft, ngeri!!! Jadi secara reflek aku menoleh untuk memastikan situasi dan menyiapkan keberanianku. Paranoid!!! Hehehe ....
Aku sudah memasuki perkampungan, masih sepi! Ternyata mendung dan hujan tadi malam masih menyisakan aura kemalasan yang dibungkus dalam tidur pagi.
Aku melintasi jembatan pendek yang menghubungkan gang berikutnya. Aku mulai melihat beberapa ibu-ibu beraktifitas. Mereka menyiapkan sayur dan tempe, pasti itu untuk sarapan keluarga mereka. Aku hanya menunduk ketika melintasi mereka yang sedang asyik mencuci sayur bayam, kangkung, dan lainya.
Seorang bapak tua di depan rumah, seperti bersiap untuk menyehatkan badan dengan olah raga ringan. Aku tersenyum kepada bapak itu dan menyapa dengan sapaan khas Jawa, "Monggo Pak". Bapak itu mengulang kata "monggo" dan memberi senyuman balik untukku.
Ketika di ujung gang aku sadar, matahari sudah mulai menampakkan bias sinarnya. Aku tersenyum menyambutnya dan kekhawatiranku berangsur menurun. Aku melihat jam di hpku, pukul 05.05. Hmm, ternyata perjalananku baru 20 menit. Siap! Sepertinya, menit berikutnya akan lebih lancar karena aku akan melintasi pemakaman umum, Liponsos, dan area tambak. "Enggak juga sih", pikirku. Hehehe ... khawatir lagi kan?
Bagaimana tidak?, pernah saat pukul lima pagi aku sudah bersiap di depan pagar, sudah siap jalan pagi. Tiba-tiba dari arah kiri, kulihat seorang lelaki tanpa busana berjalan sendiri. Aku langsung masuk kembali dan membangunkan Pak Satpam, meminta untuk mengusir lelaki itu. Pak satpam malah menjelaskan, "Kemarin dia masih pake celana, hari ini kok sudah enggak. Itu mungkin orang gila yang lepas dari Liponsos". Waduh .... !!!!
Segera kubuang pikiran resahku, syukurlah ... aku melihat seorang ibu jalan bergegas, seperti tak mau ketinggalan sesuatu. Dua ekor kucing bertengkar di belakangnya, namun ibu itu tetap berjalan cepat tanpa menghiraukan kucing yang akhirnya juga saling berkejaran melewati kakinya.
Aku mengarahkan pandangan ke sebelah kiri, area pemakaman umum. Kulihat di tengah ada gazebonya, aku tidak ingin mengamatinya. Kuarahkan pandangan ke kanan, pemakaman umum juga. Ada dua bangunan seperti rumah ibadah yang sedang dalam rangka dibangun.
Sesaat, aku segera mengarahkan pandanganku ke sebuah pintu gerbang. Ya, Liponsos! Dengan harapan baik, aku melihat ke pintu gerbang. Kulihat pintu sedikit terbuka, dan seorang tertidur di depan pos jaga. Mungkin itu salahsatu satpam yang sudah lelah berjaga semalaman.
Aku mempercepat langkah hingga setengah berlari. Langkahu tertahan, karena aku mendengar kicau burung yang tidak biasa kudengar.Ini Surabaya, kota metropolitan ke dua sesudah Jakarta. Dan, aku masih mendengar suara kicau burung ini?
Oooh, ternyata di depan sebuah wisma/panti, pepohonannya masih sangat rindang. Itu yang membuat burung-burung itu senang tinggal di situ. Rasanya sangat menyenangkan!
Belum usai kekagumanku mendengar nyanyian burung, aku dikejutkan dengan rumah-rumah penduduk yang sebelumnya aku ketahui sebagai daerah pemulung, sekarang sudah rata dengan tanah. Aku melihat puing-puing rumah rata, dan hamparan sampah bercampur, berserakan. Kemana saja aku selama ini? Hingga aku tak mengetahui daerah ini sudah berubah.
Di tengah pengamatanku, aku melihat ada sebuah warung lesehan. Masih juga ada kegiatan entrepreneur di tengan hamparan bekas sampah ini? Manusia ... manusia! Untuk bertahan hidup atau memanfaatkan situasi dan kondisi ya?
Sudahlah, jika aku asyik menjadi pengamat pagi ini, aku tidak akan segera sampai di ITS. Daerah padat sudah di depan mata, terminal, pasar pagi, dan kendaraan mulai hilir mudik. Aku meilhat jam di hpku, pukul 05.30. Okeh, aku sudah jalan kaki selama 45 menit.
Aku segera menghitung lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai di tempat tujuanku. Oke, aku pasti bisa mencapainya dalam 10 menit. Benar, setelah aku mengabaikan keramaian pagi di daerah pasar, aku segera melintas gang kecil. Melalui jembatan kecil dan antri untuk menunggu giliran jalan, karena dari arah yang berlawanan masih ada sepeda yang ingin melalui jembatan tersebut terlebih dahulu.
Tepat 10 menit, sesuai dengan perkiraanku! Yes! Alhamdulillah, aku sampai dengan selamat!
(untuk lanjutan cerita, lain waktu ya!)
Sejenak aku mengingat janjiku untuk jalan-jalan pagi jika hujan tidak turun. Akhirnya, aku menjawab sms tersebut, "Ya Pak, pukul 04.45 saya berangkat".
Aku bergegas bangkit dan menuju kamar mandi, membersihkan muka, kemudian berwudlu. Setelah selesai sholat dan persiapan jalan pagi cukup, aku mengambil sepatu usangku. Hmmm, terlalu lama aku tidak memakai sepatu ini, berdebu, dan hampir tidak cukup. Aku bersihkan ala kadarnya, karena aku akan memakainya jalan pagi.
Perjalananku cukup panjang, kira-kira 3 Km (kalau salah kira ya maaf), hehehe. Sebelum mulai perjalanan aku melakukan warming up terlebih dahulu. Aku juga membawa hp dan sejumlah uang untuk kepentingan di jalan. Tepat pukul 04.45 aku mulai perjalananku.
Keluar dari pagar, aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Berpikir memilih jalan mana yang akan kuambil. Jika ke kanan berarti aku akan melewati perumahan besar dengan gedung-gedung bak istana, sepi, dan aku sendiri di pagi hari yang masih diselimuti mendung.
Kalau aku ambil jalur kiri, aku akan melewati persawahan, rumah penduduk, pemakaman umum, Liponsos, dan tambak. Aku tidak yakin itu juga akan ramai, karena mendung masih mampu membuai mimpi bagi yang ingin bermalas-malasan di hari Minggu.
Aku akan ambil jalan yang kiri dengan segala resikonya. Aku mulai perjalananku, seperti biasa selalu ada lafadz-lafadz yang muncul tanpa aku panggil setiap aku melakukan perjalanan sendiri. Aku belajar menikmati perjalan pagi dengan mendungnya. Sampai di persawahan, dari belakan aku mendengar suara sepeda yang dikayuh. Sebenarnya aku tidak ingin menoleh, tetapi untuk keamananku aku harus memastikan.
Aku menoleh ke belakang, kulihat seorang lelaki muda mengayuh sepeda. Aku segera meluruskan pandangan dan sedikit bergegas dengan lari kecil.
Sebenarnya, selintas aku mengingat sebuah kejadian dimana tepat di area persawahan ini, pernah ada kejadian mutilasi. Huuuuuft, ngeri!!! Jadi secara reflek aku menoleh untuk memastikan situasi dan menyiapkan keberanianku. Paranoid!!! Hehehe ....
Aku sudah memasuki perkampungan, masih sepi! Ternyata mendung dan hujan tadi malam masih menyisakan aura kemalasan yang dibungkus dalam tidur pagi.
Aku melintasi jembatan pendek yang menghubungkan gang berikutnya. Aku mulai melihat beberapa ibu-ibu beraktifitas. Mereka menyiapkan sayur dan tempe, pasti itu untuk sarapan keluarga mereka. Aku hanya menunduk ketika melintasi mereka yang sedang asyik mencuci sayur bayam, kangkung, dan lainya.
Seorang bapak tua di depan rumah, seperti bersiap untuk menyehatkan badan dengan olah raga ringan. Aku tersenyum kepada bapak itu dan menyapa dengan sapaan khas Jawa, "Monggo Pak". Bapak itu mengulang kata "monggo" dan memberi senyuman balik untukku.
Ketika di ujung gang aku sadar, matahari sudah mulai menampakkan bias sinarnya. Aku tersenyum menyambutnya dan kekhawatiranku berangsur menurun. Aku melihat jam di hpku, pukul 05.05. Hmm, ternyata perjalananku baru 20 menit. Siap! Sepertinya, menit berikutnya akan lebih lancar karena aku akan melintasi pemakaman umum, Liponsos, dan area tambak. "Enggak juga sih", pikirku. Hehehe ... khawatir lagi kan?
Bagaimana tidak?, pernah saat pukul lima pagi aku sudah bersiap di depan pagar, sudah siap jalan pagi. Tiba-tiba dari arah kiri, kulihat seorang lelaki tanpa busana berjalan sendiri. Aku langsung masuk kembali dan membangunkan Pak Satpam, meminta untuk mengusir lelaki itu. Pak satpam malah menjelaskan, "Kemarin dia masih pake celana, hari ini kok sudah enggak. Itu mungkin orang gila yang lepas dari Liponsos". Waduh .... !!!!
Segera kubuang pikiran resahku, syukurlah ... aku melihat seorang ibu jalan bergegas, seperti tak mau ketinggalan sesuatu. Dua ekor kucing bertengkar di belakangnya, namun ibu itu tetap berjalan cepat tanpa menghiraukan kucing yang akhirnya juga saling berkejaran melewati kakinya.
Aku mengarahkan pandangan ke sebelah kiri, area pemakaman umum. Kulihat di tengah ada gazebonya, aku tidak ingin mengamatinya. Kuarahkan pandangan ke kanan, pemakaman umum juga. Ada dua bangunan seperti rumah ibadah yang sedang dalam rangka dibangun.
Sesaat, aku segera mengarahkan pandanganku ke sebuah pintu gerbang. Ya, Liponsos! Dengan harapan baik, aku melihat ke pintu gerbang. Kulihat pintu sedikit terbuka, dan seorang tertidur di depan pos jaga. Mungkin itu salahsatu satpam yang sudah lelah berjaga semalaman.
Aku mempercepat langkah hingga setengah berlari. Langkahu tertahan, karena aku mendengar kicau burung yang tidak biasa kudengar.Ini Surabaya, kota metropolitan ke dua sesudah Jakarta. Dan, aku masih mendengar suara kicau burung ini?
Oooh, ternyata di depan sebuah wisma/panti, pepohonannya masih sangat rindang. Itu yang membuat burung-burung itu senang tinggal di situ. Rasanya sangat menyenangkan!
Belum usai kekagumanku mendengar nyanyian burung, aku dikejutkan dengan rumah-rumah penduduk yang sebelumnya aku ketahui sebagai daerah pemulung, sekarang sudah rata dengan tanah. Aku melihat puing-puing rumah rata, dan hamparan sampah bercampur, berserakan. Kemana saja aku selama ini? Hingga aku tak mengetahui daerah ini sudah berubah.
Di tengah pengamatanku, aku melihat ada sebuah warung lesehan. Masih juga ada kegiatan entrepreneur di tengan hamparan bekas sampah ini? Manusia ... manusia! Untuk bertahan hidup atau memanfaatkan situasi dan kondisi ya?
Sudahlah, jika aku asyik menjadi pengamat pagi ini, aku tidak akan segera sampai di ITS. Daerah padat sudah di depan mata, terminal, pasar pagi, dan kendaraan mulai hilir mudik. Aku meilhat jam di hpku, pukul 05.30. Okeh, aku sudah jalan kaki selama 45 menit.
Aku segera menghitung lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai di tempat tujuanku. Oke, aku pasti bisa mencapainya dalam 10 menit. Benar, setelah aku mengabaikan keramaian pagi di daerah pasar, aku segera melintas gang kecil. Melalui jembatan kecil dan antri untuk menunggu giliran jalan, karena dari arah yang berlawanan masih ada sepeda yang ingin melalui jembatan tersebut terlebih dahulu.
Tepat 10 menit, sesuai dengan perkiraanku! Yes! Alhamdulillah, aku sampai dengan selamat!
(untuk lanjutan cerita, lain waktu ya!)
Langganan:
Postingan (Atom)






