Menu Tab

  • BERANDA
  • PUISI
  • MOTIVASI
  • INDOOR
  • OUTDOOR

Sabtu, 09 Maret 2013

MAKANAN, AKTIVITAS, dan IBADAH

Secara tidak sengaja, saya menghitung berapa banyak biaya yang saya gunakan dalam satu bulan. Transportasi, sosialisasi, dan tentu saja kebutuhan fisik tubuh alias makan.
Ternyata, pengeluaran terbesar adalah untuk makan.
Ketika bertemu dengan seorang ayah dari anak didik saya. Kami secara tidak sengaja berdiskusi tentang makanan halal dan haram. Teramat sederhana memang dan telah menjadi sebuah kewajiban untuk memenuhi kebutuhan makan bagi manusia yang masih hidup.
Untuk mencari sesuap nasi dalam peribahasanya, seorang manusia bisa melakukan apa saja.
Berdagang, menjadi motivator, berbisnis apa saja, sampai maaf ... melakukan segala cara yang hampir "abu-abu" arti kehalalannya.
Halal secara syari'at dan secara "benda" itu sendiri sudah ada panduan yang jelas. Seperti daging babi, bangkai, dan lainya. Dan itupun kadang masih dicari "celah" nya, agar menjadi halal.
Tidak sedikit manusia juga sudah mulai bosan dengan daging ayam, kambing, sapi, dan lainnya. Sudah banyak cerita tentang manusia memakan manusia.
"Astaghfirullah ... "
Bagaimana dengan halal secara "perolehannya"? Ini yang harus menjadi pelajaran hati-hati dan waspada.
Bagaimana tidak? Karena tubuh membutuhkan nutrisi makanan untuk bisa kuat. Jika tubuh kuat, maka manusia bisa beraktifitas.
Nah! Hubungannya apa ya, makanan, tubuh kuat, dan aktifitas kita?
Segala sesuatu yang terjadi kepada kita selalu berhubungan seperti rangkai makanan. Apa yang kita makan akan mempengaruhi kesehatan tubuh kita.
Kesehatan kita berpengaruh terhadap aktivitas kita.
Aktivitas kita adalah perilaku kita. Nah, perilaku kita adalah ibadah kita!
Jika cara memperoleh makanan kita itu sudah tidak baik, maka dari mana efek kebaikan itu akan diproses melalui makanan yang mensuplai tenaga tubuh kita?
Jika seorang pekerja kemudian tidak disiplin, tidak profesional, apakah gaji yang ia peroleh bisa dikatakan halal 100 %?
Ketika bertugas kemudian tidak bertanggung jawab atas tugasnya. Apakah kehalalan gajinya juga bisa dipertanggung jawabkan.
Mungkin, apa yang saya pikirkan dan saya tulis ini terlalu berlebihan.
Tetapi, kita bekerja untuk memperoleh upah/gaji, dan gaji itu yang kita wujud dengan segala keperluan kita.
Dan sekali lagi makanan adalah kebutuhan primer manusia yang selalu berusaha dipenuhi.
Ketika bangsa kita ini sudah memiliki banyak masalah yang aneh-aneh, mungkin karena halal dan haram makanan yang kita konsumsi saat ini sudah "bercampur" menjadi hukum "Abu-abu" semua.
Ketika pulang ke desa, saya menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan sanak saudara dan tetangga tentang makanan yang mereka konsumsi.
Berawal dari perasaan ibu ketika menyusui anak-anak mereka. Mereka mulai sadar, bahwa perasaan ketika menyusui itupun cukup berdampak terhadap perilaku anak-anak mereka.
Dan menyusui juga proses mensuplai makanan kepada si bayi.
Mengapa anak-anak kita tidak patuh, suka membantah, dan mampu berbohong? Mungkin, kita juga perlu kembali mengevaluasi makan dan proses memperoleh makanan tersebut.
Mengapa ada manusia yang cepat dalam menghafal al-qur'an, kepeduliannya tinggi, dan amanah, InsyaAllah juga bisa kita evaluasi dari sisi makanan yang dikonsumsi mereka.
Semoga tulisan saya yang amburadul dan belum berujung ini, akan menjadi bahan evaluasi saya pribadi dan menyentuh semangat untuk evaluasi diri bagi orang lain.
Akhir kata mohon maaf dan terima kasih.

Senin, 18 Februari 2013

HIDUP TERLALU "ENAK"

Setelah dua hari berkutat membaca buku tentang "SUKSES dan GAGAL" aku jadi mengingat cerita masa kecilku. Begitu banyak hal yang telah kualami untuk mengerti arti gagal dan mungkin banyak orang yang akan mengatakannya sebagai sebuah "Penderitaan".
Bagaimana tidak, untuk menikmati nasi setiap hari itu belum tentu. Memiliki alat tulis lengkap saja harus membantu tetangga memungut jambu monyet, kemudian diberi upah dan aku baru akan menikmatinya dengan membeli alat tulis.
Hmmm, sebenarnya bukan karena emak dan abahku tidak punya uang untuk membeli. Tetapi kami sangat berhemat untuk kepentingan "hidup" saat itu. Itu artinya sama saja ya? Hehehehe....
Membaca buku yang ditulis Michael Lum. Y membuat aku kembali melihat sekeliling juga.
Menjadi guru sepertinya membuat aku semakin detail dalam melihat hal-hal yang "biasa" terjadi. Berkumpul dengan anak-anak yang serba berkecukupan, merupakan tantangan tersendiri dalam mengenalkan arti "gagal" dan bahkan mungkin arti "penderitaan".
Secara fisik materi, aku cukup "susah" memberi gambaran yang jelas. Meminta mereka untuk membayangkan jika suatu saat, harta benda yang mereka nikmati saat ini akan hilang ternyata agak "sulit". Hehehehe ... Mungkin karena selama ini apa yang mereka inginkan selalu terpenuhi.
Mengajak mereka ke tempat yang "melas" cukup menyentuh di tempat itu. Ketika kembali ke kehidupan normal mereka, pelajaran empati itu sedikit demi sedikit beralih.
Kertas, buku, pensil, penghapus, sandal, sepatu, tepak, dan banyak lagi benda-benda yang kembali tergeletak di lantai dan tidak ada yang "mengakuinya". :(

Ketika itu terjadi, aku kembali mengingatkan dengan bahasa yang tegas.
"Mungkin hidup kalian saat ini terlalu enak, jadi kehilangan sesuatu yang berharga menurutku saat di usia kalian. Ini bukan sesuatu yang berharga! Jika saja kalian berani mengambil keputusan untuk merelakan diri dengan hidup yang serba "terbatas" mungkin kalian baru akan berpikir untuk lebih peduli dan menjaga barang-barang kalian".
kalimatku terlalu panjang untuk penjelasan kepada anak SD kelas 5 :(   (huuuuftttt ....)
Mungkin saat ini aku mengalami masa yang paling ngetrend "Galau"... hehehe ... Atau karena pada jam pertama kami sudah bermain peran dan mengekspresikan berbagai "perasaan", jadi kebawa deh!

Ya sudahlah, semoga semua yang kami lalui adalah pembelajaran yang akan membuat kehidupan kami lebih bermakna. Semoga para orang tua juga menyiapkan anak-anaknya untuk berpetualang dan merasakan berbagai kenyataan hidup.

Dalam buku Michael ditulis, ada seorang wartawan yang melakukan wawancara kepada seorang yang kaya raya, pokoknya tajir deh! Disela wawancara si Ayah mengatakan, saya ini sudah tua dan saya akan mewariskan seluruh harta kekayaan saya kepada anak saya satu-satunya. Namun, saya merasa takut? Kira-kira apa yang ditakutkan si Ayah? Ada yang bisa jawab? ...... Ditunggu ....



Sabtu, 02 Februari 2013

MONOLOG? AKU TIDAK SABAR!!!



 "Monolog itu apa sih?", Farrel sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan arti kata monolog. Yap, kami sedang mempersiapkan sebuah proyek MONOLOG sebagai wujud kompetensi verbal. Kompetensi ini kemudian disandingkan dengan kompetensi lain, kompetensi sosial yang sedang mempelajari kebudayaan Indonesia, Akidah Akhlak yang bisa memasuki semua ruang kompetensi dengan tujuan menemukan sisi spiritual di setiap kompetensi.
"Monolog itu sebuah pementasan tunggal, seorang aktor yang berakting sendirian di panggung pementasan. Kali ini kalian bebas memilih, mau jadi presenter, dalang, pendongeng, atau aktor berperan ganda.", aku menjelaskan arti monolog tanpa melihat kamus bahasa Indonesia. :) 

Fokus utama dari proyek monolog ini adalah, anak-anak menikmati proses pembuatan naskah dengan ide mereka masing-masing yang akan dipentaskan sendiri. Ini adalah pilihan dan proses yang cukup menantang bagi anak-anak. 
Fokus kedua adalah, kepercayaan diri dan keberanian mengekspresikan ide cerita dalam sebuah pementasan nyata.
Fokus ketiga adalah, anak-anak mampu belajar secara integrated dengan segala kemampuan yang mereka miliki. meramu informasi, menuangkan menjadi ide naskah, melatih keberanian, memilih tema, dan banyak lagi kemampuan yang diperlukan untuk siap mengahdapi proyek ini.

Pada awalnya mereka merasa bahwa proyek individu ini tidak bakal "menggetarkan nyali". Untuk membuat menciptakan sebuah fokus, kedisiplinan, tanggung jawab, dan imajinasi yang lahir dari diri sendiri, maka kami memutuskan untuk membuat panggung mini di selasar kelas. Sebenarnya awal rencanaku, panggung akan dibuat di lobby. Namun, untuk beberapa situasi yang kurang pas kami memutuskan panggung berada di selasar kelas kami yang selalu dilewati banyak orang.
Itu berarti setiap orang yang lewat akan berkesempatan untuk melihat karya mereka. Pentas kami lakukan juga di saat anak-anak  menikmati waktu istirahat. Para penonton boleh membawa makanan dan minuman sambil menonton pementasan monolog kelas 5.

Proses pementasan dibagi menjadi 3 tahap. Hari pertama: Selasa, 29 Januari 2013 adalah pementasan pertama. Peserta di hari pertama terlihat cukup nervous saat persiapan menuju panggung.

Yang luar biasa menurutku, panggung sederhana, penonton dengan kursi, dan tulisan sederhana “MONOLOG SHOW” benar-benar sudah menjadi ajang tantangan asah talenta bagi anak-anak. Jika aku sendiri yang melihat, segala sesuatu yang serba sangat sederhana itu belum tentu akan menimbulkan “dag dig dug” dan tantangan. Tapi TIDAK untuk mereka. Anak-anak sangat bersemangat dan merasa panggung mini itu adalah sebuah panggung ekspresi yang membutuhkan persiapan khusus. LUAR BIASA!

Satu demi satu para peserta mempersembahkan monolog mereka. Aku meminta Dega untuk menjadi host  atau pembawa acara pada putaran pertama ini. Aku hanya ingin menikmati dan memberi nilai pada pementasan mereka. Cara Dega memilih acak naskah para peserta cukup membuat tegang para penonton. Murid Australiaku sudah terlihat tegang, berharap bahwa gilirannya masih akan lama.

Yes! Time for Didi!!! And the audience gives a thousand applause for her! J
Selangkah demi selangkah Didi maju ke panggung. Anak-anak yang lain siap mendengarkan. Yap! Didi adalah anak yang sangat jarang terdengar suaranya. Kemampuan bahasa Inggris yang melebihi kemampuan berbahasa Indonesia membuatnya ragu untuk presentasi dalam bahasa Inggris. Mungkin dia takut jika teman-temannya tidak mengerti ceritanya. Tenang Didi, kami ini siap dengan segala suasana. Butuh untuk berbahasa Inggris? SIAP! Butuh untuk mencangkul? SIAP! Butuh imam Sholat? SIAP! Hehehe ….

Kalimat demi kalimat diucapkan Didi dengan cukup keras. Dia bercerita tentang kucing yang gemuk, makan apapun yang ada dihadapannya. Ketika sampai pada kalimat kedua yang sama, and now, I am going to eat you! Semua anak tertawa. Akhirnya, kalimat itu menjadi kalimat yang dihafal dengan baik oleh teman-teman Didi. Didi pun terlihat semangat bercerita.

Luar biasa, dari pementasan pertama ini aku menemukan betapa sangat berharganya pengakuan, motivasi, dan kepercayaan yang diberikan teman untuk teman yang lain. Membuat kelemahan teman berubah menjadi kekuatan untuk maju dan berusaha lebih baik.

Belajar dari pementasan pertama, anak-anak di pementasan kedua terlihat lebih siap berakting. Meski hampir semua peserta tetap memegang dan membaca naskah, namun suara mereka sudah terdengar lebih lantang dan menguasai panggung. Sudah ada yang berhasil memerankan dua bahkan sampai tiga tokoh dalam sebuah naskah. Usaha membawa property pendukung cerita sudah terlihat di pementasan kedua ini.

Pada pementasan ketiga, banyak teman yang sudah ditunggu-tunggu ceritanya. Ifal yang terkanal dengan kelucuan dan kepedeannya benar-benar sudah membuat teman-temannya terhibur. Farrel dengan segala pertanyaannya, telah membius penonton dengan acting memerankan tiga tokoh dengan sempurna untuk ukuran pementasan perdananya. Dia membuktikan rasa tidak sabar dan komentar-komentarnya tentang pementasan kawan-kawannya yang dinilai belum maksimal dalam berekspresi. Dan Farhan, tanpa naskah dia dipanggil ke panggung bercerita tentang “NEGERI TIDAK BISA” dengan sempurna.

Sungguh luar biasa!!! Ada sih beberapa anak yang masih demam panggung, itu kewajaran yang suatu hari nanti PASTI akan berubah menjadi sebuah persembahan yang SPEKTAKULER!
Aku ingin mengutip kalimat bang Andrea Hirata, penulis Tetralogi LASKAR PELANGI untuk menutup ceritaku.
Teruslah berkarya, dan karyamu yang akan mencari jalannya sendiri!

Rabu, 23 Januari 2013

PERJALANAN BUKU KLK


ANTI BIROKRASI YANG SANGAT NASIONALIS




Bertemu dengan seorang musisi kondang Mas Slamet A. Sjukur adalah sebuah anugerah. Kami dipertemukan beliau dalam sebuah gambaran pendidikan yang berkualitas. Saya sebut demikian, karena beliau mendengar cerita Sekolah Alam dari Pak Martasi dan langsung ingin dating berkunjung. Kerinduan pada sebuah suasana pendidikan yang asri, akrab, dan penuh persahabatan ditemukan di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya.
Kedatangan beliau pertama melahirkan banyak pertanyaan yang bisa dijadikan sebagai bukti “Kehausan Ilmu” meski beliau sudah melanglang buana ke beberapa Negara. Sikap nasionalisme yang tertanam dalam diri Mas Slamet membuat beliau ingin menyelamatkan bangsa ini dari system yang mbulet dan kadang “tidak masuk akal”.
Hadiah kecil buku Kelasku Laboratorium Kehidupan, membuat beliau terkesan dengan isi yang sederhana namun menggambarkan suasana yang begitu bersahaja. Sebagai penulis, saya bangga mendengar tanggapan beliau. Di sisi lain, saya harus berusaha untuk melanjutkan sekuel buku KLK episode selanjutnya.
Bertandang ke kediaman mas Slamet PASTI akan banyak ilmu yang kami dapatkan. Duo Kanjeng (Saya dan Wuri) siap berguru dan berbagi cerita. Hujan tidak hadir kemarin, membuat kami segera menemukan alamat yang diberikan.
Rumah di tengah kota, bertetangga yang cukup padat, gang kecil, membuat saya pribadi berpikir bahwa Mas Slamet PASTI memiliki sisi kepribadian unggul. Ketika kami agak bingung dengan parker sepeda motor, seorang ibu datang dan mempersilakan untuk parker di depan rumah beliau.selanjutnya si ibu mengarahkan kami ke rumah mas Slamet, “Lurus saja sampai ujung mbak, nanti di atas pintu itu ada belnya. Pak Slamet piano kan?”. “Iya Bu, matur suwun”, aku menjawab si Ibu baik hati.
Kami mengamati bel yang dikatakan si Ibu. Ada beberapa tulisan “BEL” untuk memberi informasi kepada siapa saja yang ingin bertamu. Aku memegang tali bel dan kutarik. Pada tarikan ketiga aku mendengar langkah kaki mendekati pintu.
Wajah bijak itu muncul, “Oh, Mbak Hamdiya… ayo masuk”. Aku segera mencium aroma klasik dan menemukan beberapa benda yang tidak bisa kuhitung berapa lama benda-benda itu ada di sana. Buku-buku yang sampulnya sudah mulai memerah. Jam bandul yang sangat elegan, dan piano akustik besar. Ya! Dengan piano itulah Mas Slamet berdiskusi setiap saat.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dalam diriku. Pertama kali bertemu dengan beliau aku merasakan energy yang luar biasa. Semangat pantang menyerah dan “Inilah Saya” begitu kuatnya. Apakah karena beliau juga cacat kaki seperti abahku yang membuatku merasa begitu dekat. Atau bahkan pancaran semangat itu yang selalu kukenal dari Abahku. Bahagia dan selalu ingin berbagi cerita.
Setelah kami duduk, aku langsung diberi beberapa lembar kertas. Lembar pertama berisi fotokopi tulisan opini Mas Slamet tentang pendidikan. Satu bendel lagi tentang partitur pementasan music dengan alat kentongan atau alat yang terbuat dari bambu.
Pembicaraan kami mengalir sangat lancar. Mulai dari pengalaman kami masing-masing. Kami berlima, Mas Slamet, Mbak Gema, Wuri, aku, dan Mas …. (maaf aku lupa namanya), padahal nama ini disebut berkali-kali, entah … aku bisa lupa.
Pribadi yang luar biasa, kuat, dan idealis. Itu gambaran yang kulihat pada setiap kalimatnya. Beliau menghafal hampir seluruh isi buku Kelasku Laboratorium Kehidupan itu diluar dugaan. Beliau membeli 8 eksemplar buku dari Toga Mas Diponegoro. I am speechless. Memandang kagum semangat dan impian akan sebuah iklim pendidikan yang luar biasa.
Disela diskusi kami melakukan praktek sebuah karya pementasan beliau yang bertajuk “100 ABG BABU”. Karya besar seorang musisi besar bisa kami nikmati secara gratis. Kami praktek melakukan tepukan dengan panduan partitur yang diciptakan beliau. Naskah pementasan spektakuler yang sudah pernah dilakukan di Jakarta. Dan kami, DUO KANJENG akan melakukannya di “negeri” kami.
Adzan maghrib terdengar, kami harus segera mengakhiri diskusi kami. Semoga lain waktu kami dipertemukan kembali dengan semangat yang lebih baik lagi untuk mempersembahkan karya terbaik.
Sampai jumpa lagi J

Jumat, 18 Januari 2013


SEPENGGAL PELAJARAN DARI MURIDKU SAAT PROYEK PRESENTASI PROFESI ORTU

Setelah 3 kali tahap presentasi profesi orang tua, akhirnya tuntas juga proyek ini. Aku menemukan banyak anak-anak yang sungguh luar biasa kemampuan presentasinya. Properti, seragam, dan benda yang berhubungan dengan profesi orang tuanya dibawa ke sekolah.
Ada juga yang berinisiatif membuat power point. Itu lebih mencengangkan ketika ada anak yang membuat materi power pointnya memukau dengan penjelasan yang sangat detail. Bahasa anak-anak yang polos membuat presentasinya semakin menarik.
Aku menemukan keberanian-keberanian yang terhalang oleh rasa malu, was-was, takut salah, dan takut tidak diperhatikan. Aku menemukan kalimat-kalimat pujian memukau untuk mama-papa mereka. Aku menemukan raut wajah sedih, senang, bangga, sekaligus wajah absurd saat anak-anak melakukan presentasi.
Tentu saja guru harus ambil tindakan suara tegas untuk mengkondisikan forum untuk belajar menghargai dan menghormati para pembicara. Ada ice breaking untuk merangkai semangat kembali. Ada cerita lucu untuk membuat mereka tidak tegang. Aku temukan semua keajaiban itu dalam tiga hari bersama mereka.
Saat menunggu murid-murid datang di depan pintu gerbang, seorang murid lelakiku datang. Ia  berusaha menghafalkan materi presentasinya. Dia mendekatiku dan mencari ketenangan dan keyakinannya. Aku hanya berusaha untuk tidak mengerti keresahan itu.
Murid istimewaku yang terbiasa di luar kelas, kali ini presentasi dengan bahasa Inggris. Semua anak bertepuk tangan tanpa diminta.
Saat persiapan presentasi, seorang murid berbahasa asingku mendekat. Dia tidak mau aku mengabadikan moment tantangan presentasi pertamanya. Tangannya yang dingin, wajah yang sedari tadi terlihat hawatir, menarik nafas berkali-kali berusaha menenangkan diri. Aku berdiri di sampingnya, dia sedikit terasa bersandar. Aku berkelakar untuk menenangkannya.
“Oke, aku akan menterjemahkan presentasi Didi dengan bahasa Arab”.
Dia tersenyum renyah, anak-anak yang lain tertawa kemudian meminta. “Bahasa Jawa saja Ust?”
“Baiklah, aku akan menterjemahkan presentasi Didi dengan bahasa Jawa”
Sandaran Didi sudah terasa lebih longgar, berarti dia sudah lebih santai. Aku mengawali ucapan salam, dan Didi melanjutkan. “Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh”. Semua teman terdiam.
Power point sudah menanti penjelasan.
Kata demi kata diucapkan dengan sangat indah dalam bahasa Inggris. Aksen Australianya yang sangat kental, membuatku terpukau. Ini kali pertamanya bicara hampir 5 menit di depan public. Luar biasa!!!
Seusai presentasi, dia terlihat sangat lega. Suaranya hampir terdengar seharian kali ini. Candaan temannya juga membuatnya penasaran dan ingin mengetahui hal yang disebut “rahasia” oleh temannya.
Alhamdulillah, luar biasa efek yang dilahirkan dari kegiatan ini. Berikutnya kami mengevaluasi kegiatan. Aku segera memberi pertanyaan.

Bagaimana pendapat kalian tentang kegiatan Presentasi kita?
1. Masih banyak anak yang tidak memakai baju/seragam orang tuanya.
2. Seharusnya presentasi bisa selesai dalam 2 hari, tapi karena ada yang tidak masuk maka jadi 3 hari deh.
3. Menurutku, selalu ada pertanyaan yang sama.
4. Masih ada yang tidak PD, aku sebenernya jg tidak tapi akhirnya biasa saja.
5. Ada yang sudah membawa property, tapi menurutku mereka belum menggunakannya dengan baik.
6. Ini kan presentasi tentang orang tua kita, tapi aku lihat masih ada yang kurang yakin dengan presentasinya.
7. Jangan bergantung pada catatan kita. Biar jawaban kita bisa lebih luas.
Dan masih banyak lagi evaluasi yang keluar dari ucapan-ucapan mereka
Aku melanjutkan ke pertanyaan kedua.
“Menurut kalian, manfaat apa saja yang sudah kalian dapatkan selama proses mengerjakan proyek ini?
1.       Belajar berani berbicara di depan umum
2.       Belajar menjadi pendengar yang baik
3.       Harus bisa mengukur volume suara saat presentasi
4.       Mengenal ayah dan ibu lebih dekat
5.       Aku jadi mengenal betapa papa itu berjuang keras untuk anak-anaknya dan mama
6.        Lebih menghargai orang tua dan merasakan menjadi mereka
7.       Harus bersyukur karena papa dan mama selalu menyayangi kita
Banyak lagi pendapat yang tidak bisa kutulis satu persatu. Evaluasi kami akhiri karena jam ektrakurikuler  sudah dimulai.
Aku bangga pada kalian murid-muridku!!!
Dan aku belajar dari kalian.
Saat hari dimana kusebut sibuk atau lapang, semoga Allah SWT selalu menggelitikku agar mampu berdo'a untuk kedua orang tua dan keluargaku.
Saat hari dimana aku dibutuhkan, aku semoga Allah SWT mengirimkan seluruh kebaikan dan memberiku kemampuan untuk menyebarkannya.
Saat orang mempercayaiku, semoga Allah SWT memberiku kekuatan Iman dan Islam untuk membuktikan bahwa gelar Rasulullah Muhammad SAW "Al-Amin" adalah utama bagi setiap insan.
Saat dimana aku menjadi orang yang dikenal banyak orang, semoga Allah SWT masih menjadikan aku sebagai orang yang peduli.
Saat hari dimana aku menjadi orang yang memiliki banyak harta, semoga Allah SWT menyiram hatiku untuk mendahulukan berbagi.
Saat dimana aku menjadi orang dengan jadwal padat, semoga Allah SWT menjaga hati dan pikranku untuk tetap melakukan silaturahmi dengan banyak orang.


Amin Ya Rabbal Alamin …

Minggu, 06 Januari 2013

BERPIKIR POSITIF DI NEGERI NEGATIF


(Kali ini mencoba nulis serius  )

Berbagi kebahagiaan dengan orang lain adalah perbuatan yang mulia. Memberi santunan kepada fakir miskin adalah anjuran agama. Bersedekah dan beramal adalah wujud rasa syukur yang sebaiknya hanya antara hamba dan Tuhannya.Di negeri ini banyak orang yang berniat baik dan sudah mewujudkan kebaikan itu. Namun, segala niat baik itu akhirnya berwujud antrian sangat panjang, berdesakan, terinjak-injak, pingsan, bahkan kehilangan nyawa para penerima kebaikan tersebut.
Mari kita lihat kembali beberapa kejadian yang ditayangkan di televisi maupun yang dimuat hampir di semua surat kabar di negeri ini. Pelaksanaan pembagian zakat, pembagian hewan qurban, hingga acara Open House dengan Presiden telah melahirkan realita yang memilukan. Terlepas dari sisi politik yang kadang dibahas secara detail di media elektronik, telah menjadikan moment-moment tersebut melenceng dari niat baiknya. Akhirnya, yang terlihat adalah betapa banyaknya warga Negara ini yang hidup di bawah garis kemiskinan. Atau bahkan yang sangat disayangkan adalah budaya menadahkan tangan akhirnya terjadi setiap tahun.
Bagaimana kalau pemandangan itu kita minimalisir dengan mengubah cara pandang kita? Dengan berlogika terbalik bahwa kondisi “miskin” yang dirasakan setiap orang sebagai kondisi yang selalu kekurangan, dirubah cara pandangnya menjadi kondisi yang terhormat dan bermartabat? Dengan demikian, si kaya akan benar-benar memuliakan si miskin dengan mengulurkan tangan kanannya untuk memberi tanpa diketahui oleh tangan kirinya. Begitu pula si miskin, akan merasa dimuliakan, karena kondisi kemiskinannya tidak membuatnya harus menadahkan tangan.
Saya berpikir, ketika membaca spanduk yang dipasang di jalan-jalan dengan kalimat kurang lebih bermaksud seperti ini: “Memberi uang kepada anak jalanan, pengamen, dan sejenisnya berarti membantu kemiskinan di negeri ini”. Atau dengan kalimat singkat: ”Anda memberi, menyuburkan kemalasan”. Bagi saya, spanduk yang dipasang itu sebenarnya bukan sekedar larangan atau sekedar himbauan. Menurut saya, spanduk itu mengajarkan banyak hal diantaranya: Jangan bangga menjadi pengangguran, berusahalah untuk memperbaiki kehidupan, hargailah diri dengan prestasi, dan sampaikanlah kebaikanmu pada tempat dan kondisi yang benar. Dengan berlogika terbalik, buatlah spanduk dengan tulisan: “Gemah ripah loh jinawi, hasil karya setiap warga di negeri ini”. Amin …
Berlogika terbalik dalam kondisi kekurangan, sama halnya dengan melatih sikap positif dalam setiap hal dan kondisi. Jika hidup membutuhkan kebiasaan, maka biasakanlah diri bersikap positif. Karena sikap itu yang akan memberikan rasa tangguh dalam menghadapi segala kondisi. Sehingga ketika seseorang sedang berada pada posisi si kaya, ia akan membiasakan dirinya tangguh dalam kekayaan dan tidak akan sulit baginya untuk berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Dan suatu ketika saat berada dalam posisi si miskin, ia akan membiasakan dirinya tangguh bekerja keras untuk tidak terpuruk pada kondisi ini. Berpikir positif menjadikan orang cerdas dalam mencari jawaban atas peristiwa yang dialami.
Hampir sempurna pelajaran menjadi warga yang merasa “kurang” di Negeri kaya ini. Bayangkan saja, dari masa penjajahan Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang yang ingin mengambil kekayaan segala sumber daya di negeri tercinta ini. Kemudian dilanjutkan dengan perpecahan di negeri sendiri dengan beragam sebab. Misalnya; keinginan suatu daerah lepas dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), merasa tidak cocok dengan Pemimpin, akhirnya “memberontak” bahkan sampai “menggulingkan” kekuasaan, dan lainnya. Yang tidak ditolak adalah ketika Tuhan member pelajaran kepada kita dengan menunjukkan feomena alam yang berwujud “bencana” yang sudah rata dialami semua provinsi di Negara kita. Masih kurangkah pelajaran tersebut?
Setelah melihat ulang kejadian yang memilukan, kita coba pelajari beberapa peristiwa yang adem-ayem saat niat baik berbagi rezeki itu terjadi. Ketika sebuah daerah mengalami bencana alam, mereka harus kehilangan harta benda dan kehilangan keluarga.  Kemudian di saat yang sama mereka harus memilih meninggalkan harta benda untuk menyelematkan diri dan bertahan hidup dalam pengungsian.
Perasaan senasib sepenanggungan pada setiap jiwa, ternyata melahirkan keeratan hati. Sebagai wujud yang indah terciptalah kerja sama, jiwa saling menolong, saling melindungi, dan kepedulian banyak pihak menjadi pemandangan yang sungguh menyentuh. Para dokter rela meninggalkan tempat nyamannya untuk bersama-sama memberikan manfaat. Jiwa-jiwa relawan muncul dan memberikan pelayanan terbaik kepada para korban. Dan masih banyak lagi kebaikan yang terlahir dalam kondisi tersebut; penggalangan dana yang dilaksanakan hampir semua elemen masyarakat. Sepertinya “perasaan senasib sepenanggungan” menjadi kunci bahwa rasa “miskin” itu menjadi tiada.
Pada peristiwa lain kita juga bisa kita pelajari (maaf sedikit berpolitik). Ketika masa pemilihan pemimpin, baik di tingkat desa, kecamatan, kabupaten/ kota madya, provinsi, sampai Negara ada istilah “serangan fajar” muncul mewarnai panggung kehidupan tersebut. Dari sisi positif, para calon pemimpin tersebut ingin berterimakasih kepada para pendukungnya yang bersedia mempercayakan tampuk kepemimpinan tersebut di pundaknya. Hasilnya, saat penyaluran niat baik itu tidak perlu antrian panjang dan tidak menyebabkan adanya korban terinjak-injak apalagi kematian. Mungkin karena sikap menghargai yang diciptakan oleh calon pemimpin tersebut, dengan memberikan bantuan secara sembunyi-sembunyi itulah yang meminimalisir korban. Jika ada masalah yang muncul, lebih ke pertanggung jawaban individu bukan?
Dari beberapa peristiwa tersebut, ada baiknya cara penyaluran zakat dan daging kurban atau semacamnya ditinjau kembali cara penyalurannya. Yang saya ketahui dengan cara orang desa, mereka membuat kepanitiaan yang bertugas mengurus dari awal hingga penyalurannya ke rumah warga yang diantarkan secara langsung. Sistem kedua yang saya pelajari selama menjadi panitia penyaluran zakat dan semacamnya di sebuah lembaga pendidikan di Surabaya, panitia yang terdiri dari guru dan murid tiga hari sebelum pelaksanaan kami menjelajah area untuk membagi kupon kepada yang berhak menerima. Saat pelaksanaan kami sudah perhitungkan waktu dan jumlah kupon yang disebar agar tidak terjadi antrian panjang. Alhamdulillah, dengan cara ini kami sukses selama Sebelas tahun sampai saat ini.
Mungkin saya terlalu sederhana mencontohkan dengan skala pengalaman di atas. Saya berpikir, ketika penyaluran itu akan dilaksanakan (tanpa mengetahui realitas yang sesungguhnya) dalam lingkungan yang lebih luas, maka kepanitiaan yang professional dan memadai, perhitungan waktu dengan kuota yang dipastikan, serta adanya kerja sama yang baik dalam lingkungan tempat tinggal, maka antrian panjang dan pemandangan memilukan tidak akan terlihat lagi. Istimewa, jika panitia tersebut bisa mengantarkan langsung di tempat tinggal penerima sedekah. Semoga Jakarta dan kota besar lainnya berlogika terbalik dengan peristiwa ini. Wujudkan bersama!

Jumat, 28 Desember 2012

Beach Observation


We proud to be a fourth grade. Why? Because in a fourth grade we have beach observation. And we will monitoring our program until the next year. The next fourth grade will continuing the program.






Our program are; Study how to make a ice block, interview in a fish auction, live in a village, and beach observation (water, beach habitat, and mangrove).





We are not only monitoring water but also the beach environment. Pollutant in a sailor village still a big problem. Especially for ocean's water.
Oil and garbage made water dirty and stink. It means, that is not health environment.






One more program, we have a new team in the village. Students from village. They plant together with us.