Menu Tab

  • BERANDA
  • PUISI
  • MOTIVASI
  • INDOOR
  • OUTDOOR

Selasa, 17 September 2013

BERHENTILAH JADI GURU!


Saya mencambuk diri sendiri melalui tulisan ini.
Sebenarnya siapa sih GURU itu?
Rektor dan seluruh jajarannya?
Kepala sekolah dan seluruh stafnya?
Ustadz dan ustadzah?
Para pemuka semua agama?
Guru ngaji, guru spiritual, guru les, dan semua yang secara legitimasi masyarakat disebut guru secara formal?
Apalagi ketika program sertifikasi sudah menjadi angin segar untuk memperbaiki “kehidupan” guru, maka banyak universitas keguruan yang didatangi calon mahasiswa. Program pelatihan semakin semarak , dan perjuangan menjadi guru semakin meningkat. Sungguh menakjubkan!
Saya jadi ingat salah satu judul di salah satu bab buku Kelasku Laboratorium Kehidupan I. “Aku Gak Pengen Jadi Guru”.
Alasan saya terlalu sederhana ketika itu. Karena abah, emak, kakak perempuan, dan kakak lelaki saya sudah jadi guru. Maka, saya akan menjadi pribadi yang lain.
Atau bahkan, karena gaji guru yang tak pernah mampu menyaingi gaji para pekerja profesi kantoran saat itu.
Bahkan, bisa jadi karena tetangga saya pernah mengolok dengan pertanyaan:
“Kamu kerja apa sekarang?”
“Saya jadi guru”
Dengan senyum kecut, dia menjawab:
“Ooooh, guru tho!”
Saya memilih nyeleneh dari keluargaku, masuk di perguruan tinggi Islam jurusan Hukum Pidana Politik! Byuh! Sepertinya menjanjikan materi dan banyak kesempatan.
Namun, semua itu terkubur hanya karena ada beberapa praktik hukum yang saya saksikan sangat meresahkan hati dan jiwa saya.
Menapaki profesi guru mulai dari lingkungan”kumuh”, kelas mengah ke bawah yang setiap harinya saya dengar suara teriakan para orang tua mengingatkan anaknya untuk berhenti bermain. Tangisan si anak yang akhirnya kena pukulan sang ayah, dilanjutkan nasehat si ibu hampir tanpa henti.
Saya pernah menjadi guru di sebuah desa kecil, desa saya sendiri dengan fasilitas minimalis. Hanya berbekal kemampuan bahasa Inggris yang secukupnya, saya berusaha berbuat yang terbaik.
Saya pernah menjadi pemateri di hadapan pegawai negeri eselon II dan eselon III dari wilayah Indonesia Timur. Mereka semua pribadi-pribadi pandai dan berkantong tebal.
Saya pernah berbagi dalam komunitas ibu-ibu rumah tangga, yang lugu dan mendengarkan dengan seksama setiap pembahasan diskusi kami.
Saya juga pernah berbagi pengalaman di hadapan para guru di Indonesia bagian timur, tengah, dan beberapa kesempatan.
Saya sudah berkecimpung di dunia pendidikan dan dipanggil ustadzah di sebuah sekolah yang berani berbeda. Membimbing anak-anaknya pada kehidupan nyata, teori yang selalu baru karena anak-anak langsung diajak ke lapangan kerja.
Memanusiakan manusia, menghargai jiwa anak dengan segala keunikannya, dan terlalu banyak jika saya jelaskan dan saya urai satu per satu apa yang sudah kami lakukan bersama.
Apakah pengalaman ini membuat saya sudah layak disebut guru?
Saya bukan apa-apa, karena sebutan GURU ini akan menjadi embel-embel saja ketika;
Jika saya tak mampu memahami keinginan mereka,
Jika saya tak mampu mengerti jiwa mereka,
Jika saya hanya memaksakan apa yang ingin kuajarkan kepada mereka,
Jika saya menolak keberadaan mereka,
Jika saya berlaku hanya dengan “prasangka”,
Jika saya tak berpikir apa yang akan menimpa mereka,
Jika saya tak mampu menerima kekurangan mereka,
Jika saya tak mampu mengembangkan kelebihan mereka,
Jika saya memberikan informasi yang seadanya untuk mereka,
Jika saya hanya bicara tanpa mampu menjadi contoh mereka,
Jika saya hanya duduk diam menyaksikan mereka bekerja,
Jika saya mengeluh karena merasa terbelenggu,
Dan  …. Masih banyak lagi hal-hal yang tak saya sadari bahwa ,
Saya telah membunuh jiwa anak-anak mereka.
MENYERAMKAN!!!
Apalagi ketika bertemu dengan jiwa murni anak istimewa. Saya dihadapkan pada sebuah kaca besar yang memperlihatkan seberapa saya sabar, ikhlas, dan tulus.
Tidak jarang, saya harus bertindak yang sebenarnya tak ingin saya lakukan. Ketegasan, pendekatan, intonasi suara yang menggetarkan, dan pandangan tajam untuk menunjukkan bahwa ada sisi hidup yang harus dimengerti anak-anak,
“Tidak semua harus terpenuhi sesuai dengan keinginan diri”
Dengan kepekaan, saya ucapkan kata maaf dan pelukan untuk memberitahu mereka,
bahwa hidup itu berbagi, ingin memahami dan dipahami, juga tak harus membenarkan diri sendiri.
Mengalami beberapa hal yang harus saya diskusikan dengan wali murid adalah pembelajaran yang sangat berharga.
Masalah beda persepsi, beda tata aturan dan penegakannya antara rumah dan sekolah, beda pemahaman sebuah kegiatan, partisipasi pembelajaran, beda cara pendekatan dan komunikasi dengan anak, beda dalam memberikan reward dan responsibility, dan segala macam perbedaan yang kami miliki.
Saya belajar tentang arti kewajaran dan bagaimana berkomunikasi. Wajar kami berbeda, karena kami beda jiwa. Setiap kepala memiliki keunikan yang berbeda, pasti cara pandang dan pemikiranpun berbeda. Apalagi pengalaman dan pengetahuan yang berbeda.
Namun, sejatinya kami adalah sama. “GURU”
Sehingga, perbedaan itu yang membuat kami kaya, menjadi saudara, dan bermakna.
Tidak jarang ada keluhan, pengharapan, sekaligus ketidak sepakatan. Rumah pendidikan yang harus mampu menyandingkan kami kembali untuk saling memahami arti membimbing dengan hati.
Jadi siapakah GURU ini sebenarnya, guru adalah setiap jiwa.
 Tak kenal profesi dan tempat tinggal.
Tak kenal jenis kendaraan dan merk pakaian.
Kita adalah GURU!
Tak akan bisa terhenti karena itu sudah terpatri!
Saya harus mencari lebih dari 1001 alasan untuk berhenti!
Maka, saya harus berhenti jadi guru
Jika pikiran, hati, dan jiwa saya sudah beku!
Semoga cambuk ini akan selalu menjadi pengingat saya
Mohon maaf dan terima kasih

Rabu, 21 Agustus 2013

KELASKU jadi KEBUN BINATANG



Proyek Pengamatan Hewan Peliharaan

Mini Zoo
Ini adalah proyek pertama yang dilakukan di minggu aktif pertama pembelajaran kelas IV SD Sekolah Alam Insan Mulia. 
Setiap anak membawa binatang peliharaan ke sekolah. Dalam sekejab, kelas kami berubah menjadi kebun binatang mini.

Ragam binatang yang dibawa, membuat kami senang dan pasti akan lebih banyak pengetahuan yang kami dapatkan.



Kegiatan pengamatan dilakukan dalam dua tahap.
Ikan
Tahap I  : Pengamatan yang dilakukan di sekolah selama dua hari (Kamis dan Jum’at)
Tahap II : Pengamatan yang dilakukan di rumah selama tiga hari (Sabtu-Senin)
Tahap I dilakukan di sekolah untuk menyamakan maksud dan cara pengamatan.  Selanjutnya, pengamatan di rumah dilakukan untuk melanjutkan kebiasaan yang sudah dibangun di sekolah.







Mengamati dan menulis
Proyek ini bertujuan untuk mempelajari makhluk hidup secara lebih detail. Hewan peliharaan, belum tentu hewan yang sudah dipelihara di rumah.  Untuk kepentingan proyek pengamatan ini, jika belum memiliki hewan peliharaan, maka setiap anak diharapkan membawa satu binatang peliharaan sebagai obyek pengamatan.
Merasakan dengan nyata








Dengan bersentuhan secara langsung, anak mampu melakukan pengamatan secara nyata. Mereka akan mengetahui ciri fisik hewan dengan baik dan benar. Hal yang paling penting, anak-anak akan mampu melakukan interaksi dengan makhluk hidup lain.
Pelajaran karakter yang kami latih dalam proyek ini meliputi;
Tanggung jawab; mempersiapkan hewan dan mengingat setiap tugas yang berhubungan dengan proyek ini membutuhkan sikap bertanggung jawab.
Kepedulian; merawat binatang jelas membutuhkan kepedulian. Mengetahui bagaimana merawat, makanan, dan kondisi yang nyaman untuk hewan yang dibawa.


 Kesabaran, adalah point penting yang harus selalu dilatih untuk melaksanakan setiap tugas.
Saling Bekerjasama
Fokus dan sikap hati-hati juga merupakan karakter yang harus dimiliki ananda untuk  suksesnya proyek pengamatan ini.
Merasakan langsung dengan sentuhan, akan menjadikan ananda mampu mengetahui lebih banyak banyak pengetahuan secara nyata.
Pada sisi kognitif, ananda diharapkan mampu memperoleh data informasi yang lebih lengkap tentang hewan peliharaannya. Memunculkan sikap kritis bertanya dan selalu haus pengetahuan.
Kerja sama orang tua yang luar biasa bersama kami di sekolah, adalah wujud pengembangan potensi yang insyAllah akan membawa ananda kesiapan menghadapi kehidupan nyata.
Amin …. Bismillah ….



                                                              

Rabu, 10 April 2013

KEAJAIBAN SEMANGAT DI KELAS INSPRIRASI




Pertama kali mengenal kota Makassar, tidak jauh beda dengan cuaca di Surabaya. “hangat”.
Memasuki sekolah SD Karuwisi III dengan harapan. Harapan untuk mampu menginspirasi dan terinspirasi. Karena saya adalah guru SD sejak 2003, mungkin kesulitan yang hadapi untuk mendekati anak-anak akan sedikit teratasi.
Pertanyaan besarnya adalah:
Bagaimana seorang guru SD dari Surabaya akan berbagi dengan siswa-siswi SD Negeri di Makassar?
Beberapa permainan dan film motivasi saya siapkan untuk berbagi di Kelas Inspirasi.
Permainan pertama adalah “Tiket Ke Mancanegara”
Saya sudah menyiapkan kertas koran yang sudah saya bagi menjadi empat bagian. Setelah  dibantu guru kelas yang mendampingi siswa hari itu, saya menarik perhatian mereka dengan tepuk irama.
Berikutnya, saya mengambil kertas Koran yang sudah saya siapkan dan mulai beraksi.
“Siapa yang mau tiket ke mancanegara?”, serentak para siswa menjawab, “Saya”.
Aksi saya lanjutkan,
“Baik, yang mau tiket ke mancanegara adalah anak-anak yang bisa memasukkan tubuhnya mulai kepala sampai kaki ke dalam kertas ini. Boleh disobek, dilobangi, atau dengan cara lain. Syarat utama, semua kertas harus digunakan dan tidak ada yang dibuang”.
Wajah anak-anak terlihat terperangah dan ada yang mengatakan, “Mana mungkin?, kertas sekecil itu!”
“Nah, karena tidak mungkin, maka jadikan semua menjadi mungkin dan berhasil”, reaksi saya menanggapi kalimat anak-anak.
“Siapa yang berani mencoba?”, saya mulai menantang.
Akhirnya ada banyak jari yang diacungkan, mereka sudah mulai terbakar semangat dan ingin berjuang.
Satu persatu mereka mencoba dan akhirnya sudah mulai muncul kreatifitas. Saya mulai memberi contoh, dan saya pura-pura mencoba. Untuk percbaan pertama saya berpura-pura gagal, karena saya ingin menunjukkanbahwa kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda.
 Ternyata ada juga yang mengamati apa yang saya lakukan dan akhirnya mereka menemukan langkah kuncinya. Setelah dua menit berpikir dan mengamati, akhirnya ada yang berhasil!
“Luar biasa! Kalian luar biasa! Ini adalah tantangan pertama. Dan kalian sudah mampu melaluinya dengan sangat baik. Maka, cita-cita apapun yang kalian miliki PASTI akan TERCAPAI!”
Mereka bertepuk tangan dan semangat mereka semakin luar biasa. Hampir di semua kelas yang saya masuki adalah kelas yang haus akan pengetahuan.
Kelas 5, kelas 4, kelas 6, kelas 3, dan kelas 2. Selalu ada anak yang meniatkan cita-cita mereka untuk membahagiakan orang tua mereka.
Setelah proses Kelas Inspirasi usai, bak seorang artis semua teman relawan diajak foto, dimintai nomor telpon, dan tanda tangan.
Inspirasi yang kami hadirkan hari ini semoga menjadi jalan keberanian untuk menata langkah terwujudnya mimpi-mimpi yang diterbangkan bersama balon sukses menuju cakrawala kehidupan nyata.
Terima kasih kepada Kepala sekolah dan seluruh guru yang sudah memberi ruang kepada kami untuk belajar menginspirasi dan terinspirasi.
Terima kasih kepada teman-teman Kelas Inspirasi Makassar yang sudah mengijinkan saya bergabung dalam kegiatan yang luar biasa ini.
Terima kasih kepada Bapak Anis Baswedan yang pemikirannya tercurah untuk kepentingan generasi bangsa Indonesia.
Pendidikan adalah mendidik, pendidikan adalah jalan
Beranilah bermimpi. Karena mimpi akan menjadi NYATA pada saat yang TEPAT.

Terima kasih
Hamdiyatur Rohmah
Guru SD Sekolah Alam insan Mulia Surabaya
Penulis buku Kelasku Laboratorium Kehidupan
Pemerhati Pendidikan

Sabtu, 23 Maret 2013

KERUWETAN ITU KEBAHAGIAAN

Guru,
Aku berpendapat profesi guru adalah profesi yang lengkap.
Belajar menjadi siapa saja bisa dari guru. Namun, aku tidak akan menulis tentang ini.
Yang ingin kutuliskan adalah pengalaman hari sibuk. Itu nama hari baru, hehehe ....
Jum'at sebenarnya hari yang selalu ingin kunikmati dengan segala "keistimewaannya"
Niat pagi hari ingin berkumpul dengan anak-anak di kelas dan menyaksikan presentasi mereka.
Tugas lain sudah menunggu. Administrasi kelas yang harus segera diselesaikan untuk kesiapan jenjang berikutnya.
Hmmm, ini adalah tantangan tersendiri buatku yang tidak suka birokrasi :) (gak perlu dibaca berkali-kali ya!)
Akhirnya aku memilih menyelesaikan tugas administrasi. Baiklah, aku PASTI BISA!
Belum selesai melakukan tugas pertama, seorang kolega editor majalah datang ingin diskusi.
Akhirnya kami diskusi hal-hal yang harus diperlukan dalam penerbitan majalah edisi bulan depan.
Seusai diskusi, inginnya menengok kegiatan di kelas.
Telpon seorang ibu membuatku menahan langkah ke kelas.
Beliau bercerita panjaaang dan lamaaaa, tentang masalah puteranya.
Akhirnya kami berdiskusi hal-hal yang seharusnya kami lakukan untuk membantu anaknya memahami diri dan kebutuhannya.
Hampir 45 menit aku berediskusi melalui telpon. Kok aku tidak masuk kelas?
Iya, kami berbagi tugas tepatnya, kadang secara formal kadang juga secara naluri. Hehehe ...sakti kan!
Baiklah, aku sudah kehilangan waktu bersama anak-anak di kelas. Giliranku bersama anak perempuan untuk berbagi cerita. Hari ini kelas 6 puteri ingin aku berbincang dengan mereka.
Sebenarnya mereka ingin bercerita tentang "cinta" dan "getarannya" denganku.
Namun waktuku tidak cukup panjang. Mereka harus bertemu guru lain yang sudah terjadwal hari ini.
Aku berbagi kalimat indah "Perempuan terhormat, karena ia cerdas dan mampu menghormati dirinya sendiri"
Mudah sekali membuat perempuan itu jatuh, karena diri mereka sendiri.
Kalimat-kalimatku begitu tegas dan mereka terlihat mendengarkan dengan baik.
Aku berterima kasih telah disambungkan dengan jiwa-jiwa yang haus ilmu seperti mereka.
Diskusi harus kami akhiri. Setelah mengawasi sholat jamaah, aku bergegas siap sholat dan makan siang.
Sayang sekali, perutku masih terasa kenyang.
Aku putuskan tidak makan siang. Aku ingin menikmati kebersamaan dengan anak-anak di kelas.
Belum sampai kelas, aku sudah diperintahkan mengcopy file yang dibutuhkan untuk dikirim ke Badan Lingkunga Hidup. Huft .... Aku ingin bersama anak-anak!!!
Akhirnya, aku berhasil masuk kelas. Kulihat beberapa anak berkelompok untuk menghafalkan do'a ziarah kubur.
Salim, anak Arab yang kesulitan melafalkan bahasa Arab terlihat serius kali ini.
Aku mendekatinya, aku bertanya apakah butuh bantuan?
Dengan semangat ia menjawab, "Ya Ust, aku mau menghafalkan"
Jawaban yang mencengangkan. Salim berusaha sangat keras untuk menghafal. Akhirnya dia bisa!!!
Kegembiraannya sungguh membuatku lebih gembira. "Ustadzah, aku mendapat nilai B", teriakannya membuat teman-temannya bertepuk tangan. Aku hanya acungkan jempolku dan tersenyum.
"Aku ingin menghafalkan artinya Ust"! Apa? Apa aku tidak salah dengar?
Ini ajaib, anak ini bertahan konsentrasi dan semangat dengan luar biasa!!!
Aku melihat semangat yang tak pernah kulihat! Ajaib!!!
Setelah selesai proses menghafalkan, aku meminta anak-anak berjamaah di kelas saja.
Karena kita akan mengevaluasi kegiatan satu minggu ini.
Sholat jama'ah Ashar yang khidmat.
Sungguh aku tak akan pernah melupakan hari ini.
Keruwetan itu membahagiakan!!!
Terima kasih anak-anak! Kalian selalu menjadi inspirasiku.
Terima kasih

Jumat, 22 Maret 2013

I AM and HAPPINESS

http://www.youtube.com/watch?v=qrfEqhgO_2M&feature=youtu.be

This is a part of my Life.
Hope, I can contribute more for education.
My dreams are a miracle.
Sometimes, it feels unbelievable
But the dreams are always looking for their own way.
Irrational is amazing moment.
Just try to enjoy it.
Give the best for others,
and you will never know,
how much the energy will come to you.
I am not a big person,
I just a dreamer.
I will always keep my dreams spirit on!
Learning to focus and build the effort.
to reach it
Dare to dream!
dare to make it comes true!
Action, action, and action!
Share your dream to Allah swt,
then we will see that everything which is impossible
becomes POSSIBLE.
Life is beautiful
No worries, no sad, no fear
Touch our life, with a big smile :-)

Warmest Greeting 

Email    : dyra_01@yahoo.com
FB       : Hamdiyatur Rohmah
Twitter : dyra_rahma

Sabtu, 09 Maret 2013

MAKANAN, AKTIVITAS, dan IBADAH

Secara tidak sengaja, saya menghitung berapa banyak biaya yang saya gunakan dalam satu bulan. Transportasi, sosialisasi, dan tentu saja kebutuhan fisik tubuh alias makan.
Ternyata, pengeluaran terbesar adalah untuk makan.
Ketika bertemu dengan seorang ayah dari anak didik saya. Kami secara tidak sengaja berdiskusi tentang makanan halal dan haram. Teramat sederhana memang dan telah menjadi sebuah kewajiban untuk memenuhi kebutuhan makan bagi manusia yang masih hidup.
Untuk mencari sesuap nasi dalam peribahasanya, seorang manusia bisa melakukan apa saja.
Berdagang, menjadi motivator, berbisnis apa saja, sampai maaf ... melakukan segala cara yang hampir "abu-abu" arti kehalalannya.
Halal secara syari'at dan secara "benda" itu sendiri sudah ada panduan yang jelas. Seperti daging babi, bangkai, dan lainya. Dan itupun kadang masih dicari "celah" nya, agar menjadi halal.
Tidak sedikit manusia juga sudah mulai bosan dengan daging ayam, kambing, sapi, dan lainnya. Sudah banyak cerita tentang manusia memakan manusia.
"Astaghfirullah ... "
Bagaimana dengan halal secara "perolehannya"? Ini yang harus menjadi pelajaran hati-hati dan waspada.
Bagaimana tidak? Karena tubuh membutuhkan nutrisi makanan untuk bisa kuat. Jika tubuh kuat, maka manusia bisa beraktifitas.
Nah! Hubungannya apa ya, makanan, tubuh kuat, dan aktifitas kita?
Segala sesuatu yang terjadi kepada kita selalu berhubungan seperti rangkai makanan. Apa yang kita makan akan mempengaruhi kesehatan tubuh kita.
Kesehatan kita berpengaruh terhadap aktivitas kita.
Aktivitas kita adalah perilaku kita. Nah, perilaku kita adalah ibadah kita!
Jika cara memperoleh makanan kita itu sudah tidak baik, maka dari mana efek kebaikan itu akan diproses melalui makanan yang mensuplai tenaga tubuh kita?
Jika seorang pekerja kemudian tidak disiplin, tidak profesional, apakah gaji yang ia peroleh bisa dikatakan halal 100 %?
Ketika bertugas kemudian tidak bertanggung jawab atas tugasnya. Apakah kehalalan gajinya juga bisa dipertanggung jawabkan.
Mungkin, apa yang saya pikirkan dan saya tulis ini terlalu berlebihan.
Tetapi, kita bekerja untuk memperoleh upah/gaji, dan gaji itu yang kita wujud dengan segala keperluan kita.
Dan sekali lagi makanan adalah kebutuhan primer manusia yang selalu berusaha dipenuhi.
Ketika bangsa kita ini sudah memiliki banyak masalah yang aneh-aneh, mungkin karena halal dan haram makanan yang kita konsumsi saat ini sudah "bercampur" menjadi hukum "Abu-abu" semua.
Ketika pulang ke desa, saya menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan sanak saudara dan tetangga tentang makanan yang mereka konsumsi.
Berawal dari perasaan ibu ketika menyusui anak-anak mereka. Mereka mulai sadar, bahwa perasaan ketika menyusui itupun cukup berdampak terhadap perilaku anak-anak mereka.
Dan menyusui juga proses mensuplai makanan kepada si bayi.
Mengapa anak-anak kita tidak patuh, suka membantah, dan mampu berbohong? Mungkin, kita juga perlu kembali mengevaluasi makan dan proses memperoleh makanan tersebut.
Mengapa ada manusia yang cepat dalam menghafal al-qur'an, kepeduliannya tinggi, dan amanah, InsyaAllah juga bisa kita evaluasi dari sisi makanan yang dikonsumsi mereka.
Semoga tulisan saya yang amburadul dan belum berujung ini, akan menjadi bahan evaluasi saya pribadi dan menyentuh semangat untuk evaluasi diri bagi orang lain.
Akhir kata mohon maaf dan terima kasih.

Senin, 18 Februari 2013

HIDUP TERLALU "ENAK"

Setelah dua hari berkutat membaca buku tentang "SUKSES dan GAGAL" aku jadi mengingat cerita masa kecilku. Begitu banyak hal yang telah kualami untuk mengerti arti gagal dan mungkin banyak orang yang akan mengatakannya sebagai sebuah "Penderitaan".
Bagaimana tidak, untuk menikmati nasi setiap hari itu belum tentu. Memiliki alat tulis lengkap saja harus membantu tetangga memungut jambu monyet, kemudian diberi upah dan aku baru akan menikmatinya dengan membeli alat tulis.
Hmmm, sebenarnya bukan karena emak dan abahku tidak punya uang untuk membeli. Tetapi kami sangat berhemat untuk kepentingan "hidup" saat itu. Itu artinya sama saja ya? Hehehehe....
Membaca buku yang ditulis Michael Lum. Y membuat aku kembali melihat sekeliling juga.
Menjadi guru sepertinya membuat aku semakin detail dalam melihat hal-hal yang "biasa" terjadi. Berkumpul dengan anak-anak yang serba berkecukupan, merupakan tantangan tersendiri dalam mengenalkan arti "gagal" dan bahkan mungkin arti "penderitaan".
Secara fisik materi, aku cukup "susah" memberi gambaran yang jelas. Meminta mereka untuk membayangkan jika suatu saat, harta benda yang mereka nikmati saat ini akan hilang ternyata agak "sulit". Hehehehe ... Mungkin karena selama ini apa yang mereka inginkan selalu terpenuhi.
Mengajak mereka ke tempat yang "melas" cukup menyentuh di tempat itu. Ketika kembali ke kehidupan normal mereka, pelajaran empati itu sedikit demi sedikit beralih.
Kertas, buku, pensil, penghapus, sandal, sepatu, tepak, dan banyak lagi benda-benda yang kembali tergeletak di lantai dan tidak ada yang "mengakuinya". :(

Ketika itu terjadi, aku kembali mengingatkan dengan bahasa yang tegas.
"Mungkin hidup kalian saat ini terlalu enak, jadi kehilangan sesuatu yang berharga menurutku saat di usia kalian. Ini bukan sesuatu yang berharga! Jika saja kalian berani mengambil keputusan untuk merelakan diri dengan hidup yang serba "terbatas" mungkin kalian baru akan berpikir untuk lebih peduli dan menjaga barang-barang kalian".
kalimatku terlalu panjang untuk penjelasan kepada anak SD kelas 5 :(   (huuuuftttt ....)
Mungkin saat ini aku mengalami masa yang paling ngetrend "Galau"... hehehe ... Atau karena pada jam pertama kami sudah bermain peran dan mengekspresikan berbagai "perasaan", jadi kebawa deh!

Ya sudahlah, semoga semua yang kami lalui adalah pembelajaran yang akan membuat kehidupan kami lebih bermakna. Semoga para orang tua juga menyiapkan anak-anaknya untuk berpetualang dan merasakan berbagai kenyataan hidup.

Dalam buku Michael ditulis, ada seorang wartawan yang melakukan wawancara kepada seorang yang kaya raya, pokoknya tajir deh! Disela wawancara si Ayah mengatakan, saya ini sudah tua dan saya akan mewariskan seluruh harta kekayaan saya kepada anak saya satu-satunya. Namun, saya merasa takut? Kira-kira apa yang ditakutkan si Ayah? Ada yang bisa jawab? ...... Ditunggu ....