Menu Tab

  • BERANDA
  • PUISI
  • MOTIVASI
  • INDOOR
  • OUTDOOR

Kamis, 17 Oktober 2013

5 JAM BERSAMA MENGUBAH ENERGI!




Mendengar kata LAPAS ANAK (Lembaga Pemasyarakatan Anak), dalam pikiranku saya terbayang segala sesuatu yang cukup menegangkan. Ya, saya pernah berpikir ingin melihat dari dekat kehidupan orang-orang yang berada dalam “penjara”. Dan, apa yang saya bayangkan itu akhirnya saya alami. Inilah yang saya ketahui sebagai jawaban atas setiap apa yang kita pikirkan, insyAllah akan terjadi, kebaikan atau keburukan sekalipun.
Bagai sebuah do’a, akan selalu terkabulkan. Namun, hanya Tuhan yang akan menentukan waktu dan memberikannya di saat yang tepat J
Ketika ditawari untuk bergabung dalam sebuah acara outbound untuk anak LAPAS Kelas IIA di sebuah kabupaten di Jawa Timur, saya langsung menerima tawaran itu.
Bagaimana tidak? Ini adalah salah satu dari puzzle pikiran saya. Selain itu, saya ingin belajar merasakan energi jiwa-jiwa yang berada dalam lingkungan tersebut. Saya yakin, akan ada banyak pelajaran yang bisa saya nikmati di sana.
Seminggu sebelum acara dilaksanakan, saya ikut survei tempat dan melihat situasi-kondisi di sana bersama tim. Hmmm, dari gedung dan lingkungan LAPAS tidak sama seperti dalam bayangan saya sebelumnya. Saya harus berkata: “Ini tidak mirip LAPAS”. Maklum, saya belum pernah sekalipun masuk lingkungan LAPAS.
Gedungnya ramah, banyak tanaman dan taman kecil-kecil dilengkapi kolam ikan. Tidak ada jeruji besi seperti yang saya lihat di TV. Jerujinya didisain seperti jendela rumah dengan kaca di luarnya. Menurut keterangan Kepala LAPAS itu, ada ruang khusus dengan jeruji yang sedikit lebih besar yang diperuntukkan pada kasus khusus juga.
Beberapa penghuni kamar berjeruji sederhana itu terlihat keluar. Mereka bermain tenes meja, ada yang duduk di selasar untuk nonton film bersama. Saya mencoba mengamati 2 anak yang sedang menyiapkan tenes meja untuk segera dimainkan.
Saya berusaha menarik perhatian mereka, dengan memunguti beberapa helai pakaian yang terjatuh karena angin. Mereka melihat saya dan saya berikan senyum ramah. Reaksi yang mereka berikan adalah, sedikit menggangguk dan melanjutkan aktivitas persiapan tenes meja.
Tubuh mereka terlihat kekar tanpa kaos. Kondisi cuaca yang panas, sepertinya membuat mereka tidak nyaman memakai kaos atau baju. Saya sedikit menangkap sorot mata tajam namun tidak liar. Dari balik pagar yang sengaja tidak dibuka, saya berusaha berkomunikasi.
“Hei, kayaknya yang sebelah sana akan menang karena bantuan angin”. Saya mengatakan kalimat itu sambil tersenyum.
Tanpa jawaban, pemain di seberang memberi kesempatan lawan mainnya untuk pindah tempat di posisinya sekarang.
Akhirnya kami mulai berkeliling melihat area yang bisa kami gunakan untuk kegiatan outdoor.  Ketua LAPAS menemani dan menjelaskan kepada kami tentang lokasi-lokasi tersebut. jumlah peserta yang akan ikut kegiatan outdoor pada awalnya 80. Namun, ada kemungkinan 218 anak penghuni sel akan ikut semua.
Hmmmmm…. Pikiran saya semakin jauh mengembara.
Kami bertanya tentang kasus-kasus yang membuat anak-anak itu berada di tempat ini. Beragam kasus mulai dari yang kecil sampai besar; mencuri, pelecehan, imigran gelap, membawa senjata tajam, narkotika, sampai pembunuhan.
Tuh kan … pikiran saya semakin liar membayangkan pertemuan kami minggu depan!
Baiklah, harus banyak persiapan yang kami lakukan. Secara pribadi, saya harus menyiapkan diri dengan pikiran dan hati yang super positif. Istilah “super” positif saya gunakan untuk memotivasi diri agar mampu menciptakan suasana damai dalam diri saya sendiri. Intinya, saya cukup tegang! Hehehe ….
Setelah menikmati aktivitas hari raya Idel Adha, akhirnya waktu yang ditentukan untuk bertemu dengan penghuni LAPAS tiba. Kami menyiapkan alat-alat permainan dan beberapa kebutuhan yang akan kami gunakan saat belajar bersama mereka.
Perjalanan kami cukup lancar. Saya juga sudah mampu menurunkan gelombang tegang saya.
Ketika kami tiba di tempat, kami belum diijinkan masuk karena sedang berlangsung upacara tanggal 17 setiap bulannya. Kami menunggu sejenak dan sedikit bercanda dan berkomitmen, bahwa tidak ada kata apalagi kalimat yang berhubungan dengan keberadaan mereka di  LAPAS ini.
Kami masukkan memori ke dalam otak kami, bahwa mereka adalah jiwa-jiwa yang memiliki hak sama seperti anak-anak didik kami di sekolah.
Sipir sudah memanggil kami dan membuka pintu kaca yang dipasang terali besi yang berbentuk ketupat, sama seperti pintu rumah pada umumnya. Pintu ini selalu dalam keadaan tergembok dengan seorang sipir yang selalu menjaganya.


Kami segera masuk dan menaruh barang-barang kami. Sekitar 80 anak sudah menunggu di ruang aula. Usia mereka minimal 12 tahun dan maksimal 18 tahun. Mereka hampir serentak melihat kami yang memasuki ruang aula itu. Saya mendengar pengumuman bahwa, anak yang hari ini memiliki jam belajar harus tetap masuk kelas. Hmmm … itu berarti kegiatan hari ini akan diikuti maksimal 100 anak.
Mata-mata tajam mereka langsung melihat kearah kami. Mereka hampir bisa saya katakana, berusaha melihat kami dengan seksama. Saya menyapa mereka dengan senyuman, mereka membalas dengan tatapan mata antara keheranan dan bertanya-tanya.

Ketua tim sudah memulai acara, kami diperkenalkan satu per satu. Tim kami terdiri dari 5 orang ustadz dan saya satu-satunya ustadzah dalam tim. Saat acara di luar pembelajaran di sekolah, kami menggunakan panggilan Mas dan khusus saya dipanggil Miss. Hehe … namun, akhirnya mereka memanggil kami kakak.
Pada awalnya, berada dalam satu ruang aula bersama mereka membuat saya mampu merasakan energy yang sangat berbeda. Ada penerimaan, penolakan, penantian, pertanyaan, dan sekedar datang dan mengikuti tanpa peduli.


Ketika permainan ice breaking sudah dimulai, mereka sudah mulai terlihat cair. Saya mencoba mengamati lebih menyeluruh. Ada beberapa anak yang terlihat ada gangguan mental, lengan bertato, kulit dengan bekas luka-luka, baju kumal, dan mungkin ada juga beberapa yang malas mandi.
Ice breaking pertama membuat mereka mulai menikmati dan tersenyum. Ice breaking kedua membuat mereka mulai bergerak dan menunjukkan interaksi keseharian bersama teman. Ice breaking ketiga sudah mulai membangun persepsi baru dalam otak mereka kepada kami. Mereka mulai menikmati permainan dan secara tak terduga, sangat cepat membentuk suasana yang kami inginkan. Luar biasa!!!
Saya merasa diamati oleh seorang anak dengan seksama. Saya memutuskan untuk mendekatinya, dia terlihat malu. Saya hanya menepuk pundaknya dan mengacungkan jempol padanya, dia tersenyum.
Ketika saya membantu mengatur kelompok dan menghitung jumlah anggota kelompok, ada beberapa yang perkataannya kasar sekaligus reaksi tangannya juga cepat. Saya segera mendekati mereka dan sekedar menepuk pundak dan berkata;
“Terima kasih sudah bekerjasama”.
Akhirnya dia hanya tersenyum dan menghentikan aksi tangan yang semula sangat mudah memukul teman di depannya.
Saya harus mengatakan ini,
“Anak-anak adalah anak-anak dengan jiwa yang sama dengan anak-anak lain. Terlepas masalah apapun yang membuat mereka menjadi berbeda. Jiwa mereka tetap haus dengan sentuhan yang membimbing dan mempercayai bahwa mereka adalah anak-anak yang baik”
Beberapa hal yang membuat saya terperangah lagi, ketika mereka diminta membuat nama kelompok. Tanpa diberi kata kunci apapun, yang muncul adalah nama-nama binatang. Singa, Scorpio, Cobra, Kucing, Bebek, Monyet, Semut, dan Kambing hitam.
Akhirnya, kami membahas satu persatu mengapa mereka memilih nama binatang tersebut.
Setelah dipancing dengan beberapa kalimat “tantangan”, akhirnya mereka memunculkan jawaban-jawaban:

Kami memilih Singa, karena kuat.
Kami memilih Scorpio, karena ganas.
Kami memilih Cobra, karena melilit dan beracun.
Kami memilih Kucing, karena lincah dan disini banyak.
Kami memilih bebek, karena berkumpul, bersatu.
Kami memilih Monyet, karena monyet itu cerdas.
Kami memilih Semut, karena maju mundur bersama dan selalu saling menyapa.
Kami memilih Kambing hitam, karena lempar batu sembunyi tangan. Nah, itu yang menyebabkan kami ada di sini!

Kalau kita cermati, jawaban-jawaban tersebut lebih banyak yang positif kan? Meski ada beberapa yang perlu dilanjutkan sebagai bahan diskusi dan diarahkan pada segala pemikiran yang positif.
Sebelum kami melanjutkan kegiatan outdoor di lapangan, kami tuntaskan pembahasan nama kelompok dengan kesepakat semua mengarah kepada kebaikan. Dan Kambing hitam, harus menunjukkan mampu merubah diri menjadi Kambing putih yang bisa menebarkan manfaat untuk manusia dan lingkungannya.
Permainan outdoor kami siapkan dengan 4 pos. Semangat mereka luar biasa, inisiatif kelompok untuk memecahkan persoalan dan tantangan yang kami berikan sungguh luar biasa. Dalam permainan Crocodile River, ada yang rela keluar dan rela menggendong teman. Sungguh tak terprediksi suasana ini.
Sekali lagi, anak-anak adalah anak-anak yang selalu membutuhkan dunia anak yang sesungguhnya.
Setlah semua rangkaian acara tantangan selesai, kami mendengarkan  motivasi dari seorang tokoh. Beliau menyampaikan:
“Setiap orang berhak melakukan apa saja, namun untuk menjadi orang pilihan ya harus memberi manfaat kepada sekitarnya”
Setelah ditanya, apakah mereka ingin menjadi diri yang lebih baik? Hampir semua anak berkeinginan untuk menjadi lebih baik. Semoga perhatian, penerimaan, dan pendampingan kita mampu menjadi jalan bagi anak-anak ini untuk mampu menemukan kebaikan dalam dirinya dan disebarkan kepada lingkungannya.
Acara ditutup setelah anak-anak melakukan jama’ah sholat Dzuhur. Sebuah keajaiban terjadi, setelah sholat, mereka membaca sholawat, dan melakukan takbiran hari ketiga bersama. Kemudian salah satu dari mereka membaca surat Al-Muzzammil dengan suara yang luar biasa merdu seperti Bapak Muammar ZA (Qari’ international).
Makharijul huruf dan tajwid yang sempurna!
Ya Rabb, Engkau pasti memberikan pelajaran terindah bagi kami semua.
Saya memang tidak mendekati mereka secara mendalam, sekejap bertemu dan belajar bersama mereka sudah menceritakan banyak hal. Mengapa mereka berada di tempat ini, keinginan dan harapan, serta pengalaman mereka selama menjalani hidup di tempat ini.
Setiap jiwa yang menjalankan agama dengan baik, keluarga yang saling menyanyangi, pelajaran yang saling memotivasi, dan lingkungan yang baik harus diciptakan bersama. Kesalahan itu bisa dilakukan oleh siapa saja, terbuka menerima nasehat dan berteman dengan orang yang tepat itu yang harus selalu kita motivasikan kepada anak-anak seperti.
Ketika kami diberi waktu untuk berbicara di forum, saya yang diminta teman tim untuk maju. Saya sedikit bercerita tentang kenakalan saya di usia mereka. Kemudian saya mengungkapkan beberapa cerita indah tentang efek kebaikan. Mata mereka terlihat memancarkan harapan untuk menjalani hidup dengan lebih terhormat.
“Kalian harus bersyukur berada di tempat ini, ada banyak kepedulian yang kalian peroleh.  Di luar sana, masih banyak jiwa-jiwa yang melanglang buana dan kepedulian yang diberikan kepada mereka pasti sangat berbeda dengan yang kalian terima di sini. Jika ada yang merasa putusan pengadilan atas kalian tidak cukup adil, hidup harus tetap berlanjut! Karena kitalah yang menentukan pilihan, maka pilihlah kebaikan insyAllah kalian akan menjadi orang-orang sukses pada masa yang akan datang”
Akhirnya mereka bertepuk tangan dan bersalaman dengan kami sebelum kembali ke ruang mereka masing-masing. Yang sangat membahagiakan adalah wajah mereka yang penuh dengan harapan baru. Semoga mereka istiqamah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan orang-orang yang memberikan kepeduliaan di tempat inipun demikian.
Dalam perjalanan pulang saya kembali berpikir tentang negeri ini. Di televisi banyak sekali artis yang masuk bui, kemudian mereka dengan bangga kembali menunjukkan diri. dan masyarakat juga menerima dengan begitu saja. Mereka kembali menikmati kehidupan glamour selebriti.
Banyak juga para pembesar di negeri ini yang masuk bui, menikmati fasilitas kelas tinggi, mendapat remisi, dan kembali hidup tanpa menjalani hukuman yang berarti.
Mereka adalah anak-anak yang terjerat hukum, ada juga beberapa yang memang memiliki keterbelakangan mental, tanpa pengacara handal. Hanya pembela dari pemerintah yang gratis, itu yang dikatakan mereka. Mereka hanya mampu menerima putusan tanpa banding. 5 tahun 4 bulan itu bukan waktu yang sebentar untuk memberi kesempatan kepada anak-anak ini menikmati jiwa anak-anak.
Baiklah, kembali saya berharap kondisi di negeri ini tidak membuat saya apatis. Semoga setiap jiwa saling menjaga dan menciptakan suasana di negeri yang besar ini. Dan para pemimpin mampu mengemban amanah di negeri yang disebut GEMAH RIPAH LOH JINAWI.








Selasa, 17 September 2013

BERHENTILAH JADI GURU!


Saya mencambuk diri sendiri melalui tulisan ini.
Sebenarnya siapa sih GURU itu?
Rektor dan seluruh jajarannya?
Kepala sekolah dan seluruh stafnya?
Ustadz dan ustadzah?
Para pemuka semua agama?
Guru ngaji, guru spiritual, guru les, dan semua yang secara legitimasi masyarakat disebut guru secara formal?
Apalagi ketika program sertifikasi sudah menjadi angin segar untuk memperbaiki “kehidupan” guru, maka banyak universitas keguruan yang didatangi calon mahasiswa. Program pelatihan semakin semarak , dan perjuangan menjadi guru semakin meningkat. Sungguh menakjubkan!
Saya jadi ingat salah satu judul di salah satu bab buku Kelasku Laboratorium Kehidupan I. “Aku Gak Pengen Jadi Guru”.
Alasan saya terlalu sederhana ketika itu. Karena abah, emak, kakak perempuan, dan kakak lelaki saya sudah jadi guru. Maka, saya akan menjadi pribadi yang lain.
Atau bahkan, karena gaji guru yang tak pernah mampu menyaingi gaji para pekerja profesi kantoran saat itu.
Bahkan, bisa jadi karena tetangga saya pernah mengolok dengan pertanyaan:
“Kamu kerja apa sekarang?”
“Saya jadi guru”
Dengan senyum kecut, dia menjawab:
“Ooooh, guru tho!”
Saya memilih nyeleneh dari keluargaku, masuk di perguruan tinggi Islam jurusan Hukum Pidana Politik! Byuh! Sepertinya menjanjikan materi dan banyak kesempatan.
Namun, semua itu terkubur hanya karena ada beberapa praktik hukum yang saya saksikan sangat meresahkan hati dan jiwa saya.
Menapaki profesi guru mulai dari lingkungan”kumuh”, kelas mengah ke bawah yang setiap harinya saya dengar suara teriakan para orang tua mengingatkan anaknya untuk berhenti bermain. Tangisan si anak yang akhirnya kena pukulan sang ayah, dilanjutkan nasehat si ibu hampir tanpa henti.
Saya pernah menjadi guru di sebuah desa kecil, desa saya sendiri dengan fasilitas minimalis. Hanya berbekal kemampuan bahasa Inggris yang secukupnya, saya berusaha berbuat yang terbaik.
Saya pernah menjadi pemateri di hadapan pegawai negeri eselon II dan eselon III dari wilayah Indonesia Timur. Mereka semua pribadi-pribadi pandai dan berkantong tebal.
Saya pernah berbagi dalam komunitas ibu-ibu rumah tangga, yang lugu dan mendengarkan dengan seksama setiap pembahasan diskusi kami.
Saya juga pernah berbagi pengalaman di hadapan para guru di Indonesia bagian timur, tengah, dan beberapa kesempatan.
Saya sudah berkecimpung di dunia pendidikan dan dipanggil ustadzah di sebuah sekolah yang berani berbeda. Membimbing anak-anaknya pada kehidupan nyata, teori yang selalu baru karena anak-anak langsung diajak ke lapangan kerja.
Memanusiakan manusia, menghargai jiwa anak dengan segala keunikannya, dan terlalu banyak jika saya jelaskan dan saya urai satu per satu apa yang sudah kami lakukan bersama.
Apakah pengalaman ini membuat saya sudah layak disebut guru?
Saya bukan apa-apa, karena sebutan GURU ini akan menjadi embel-embel saja ketika;
Jika saya tak mampu memahami keinginan mereka,
Jika saya tak mampu mengerti jiwa mereka,
Jika saya hanya memaksakan apa yang ingin kuajarkan kepada mereka,
Jika saya menolak keberadaan mereka,
Jika saya berlaku hanya dengan “prasangka”,
Jika saya tak berpikir apa yang akan menimpa mereka,
Jika saya tak mampu menerima kekurangan mereka,
Jika saya tak mampu mengembangkan kelebihan mereka,
Jika saya memberikan informasi yang seadanya untuk mereka,
Jika saya hanya bicara tanpa mampu menjadi contoh mereka,
Jika saya hanya duduk diam menyaksikan mereka bekerja,
Jika saya mengeluh karena merasa terbelenggu,
Dan  …. Masih banyak lagi hal-hal yang tak saya sadari bahwa ,
Saya telah membunuh jiwa anak-anak mereka.
MENYERAMKAN!!!
Apalagi ketika bertemu dengan jiwa murni anak istimewa. Saya dihadapkan pada sebuah kaca besar yang memperlihatkan seberapa saya sabar, ikhlas, dan tulus.
Tidak jarang, saya harus bertindak yang sebenarnya tak ingin saya lakukan. Ketegasan, pendekatan, intonasi suara yang menggetarkan, dan pandangan tajam untuk menunjukkan bahwa ada sisi hidup yang harus dimengerti anak-anak,
“Tidak semua harus terpenuhi sesuai dengan keinginan diri”
Dengan kepekaan, saya ucapkan kata maaf dan pelukan untuk memberitahu mereka,
bahwa hidup itu berbagi, ingin memahami dan dipahami, juga tak harus membenarkan diri sendiri.
Mengalami beberapa hal yang harus saya diskusikan dengan wali murid adalah pembelajaran yang sangat berharga.
Masalah beda persepsi, beda tata aturan dan penegakannya antara rumah dan sekolah, beda pemahaman sebuah kegiatan, partisipasi pembelajaran, beda cara pendekatan dan komunikasi dengan anak, beda dalam memberikan reward dan responsibility, dan segala macam perbedaan yang kami miliki.
Saya belajar tentang arti kewajaran dan bagaimana berkomunikasi. Wajar kami berbeda, karena kami beda jiwa. Setiap kepala memiliki keunikan yang berbeda, pasti cara pandang dan pemikiranpun berbeda. Apalagi pengalaman dan pengetahuan yang berbeda.
Namun, sejatinya kami adalah sama. “GURU”
Sehingga, perbedaan itu yang membuat kami kaya, menjadi saudara, dan bermakna.
Tidak jarang ada keluhan, pengharapan, sekaligus ketidak sepakatan. Rumah pendidikan yang harus mampu menyandingkan kami kembali untuk saling memahami arti membimbing dengan hati.
Jadi siapakah GURU ini sebenarnya, guru adalah setiap jiwa.
 Tak kenal profesi dan tempat tinggal.
Tak kenal jenis kendaraan dan merk pakaian.
Kita adalah GURU!
Tak akan bisa terhenti karena itu sudah terpatri!
Saya harus mencari lebih dari 1001 alasan untuk berhenti!
Maka, saya harus berhenti jadi guru
Jika pikiran, hati, dan jiwa saya sudah beku!
Semoga cambuk ini akan selalu menjadi pengingat saya
Mohon maaf dan terima kasih

Rabu, 21 Agustus 2013

KELASKU jadi KEBUN BINATANG



Proyek Pengamatan Hewan Peliharaan

Mini Zoo
Ini adalah proyek pertama yang dilakukan di minggu aktif pertama pembelajaran kelas IV SD Sekolah Alam Insan Mulia. 
Setiap anak membawa binatang peliharaan ke sekolah. Dalam sekejab, kelas kami berubah menjadi kebun binatang mini.

Ragam binatang yang dibawa, membuat kami senang dan pasti akan lebih banyak pengetahuan yang kami dapatkan.



Kegiatan pengamatan dilakukan dalam dua tahap.
Ikan
Tahap I  : Pengamatan yang dilakukan di sekolah selama dua hari (Kamis dan Jum’at)
Tahap II : Pengamatan yang dilakukan di rumah selama tiga hari (Sabtu-Senin)
Tahap I dilakukan di sekolah untuk menyamakan maksud dan cara pengamatan.  Selanjutnya, pengamatan di rumah dilakukan untuk melanjutkan kebiasaan yang sudah dibangun di sekolah.







Mengamati dan menulis
Proyek ini bertujuan untuk mempelajari makhluk hidup secara lebih detail. Hewan peliharaan, belum tentu hewan yang sudah dipelihara di rumah.  Untuk kepentingan proyek pengamatan ini, jika belum memiliki hewan peliharaan, maka setiap anak diharapkan membawa satu binatang peliharaan sebagai obyek pengamatan.
Merasakan dengan nyata








Dengan bersentuhan secara langsung, anak mampu melakukan pengamatan secara nyata. Mereka akan mengetahui ciri fisik hewan dengan baik dan benar. Hal yang paling penting, anak-anak akan mampu melakukan interaksi dengan makhluk hidup lain.
Pelajaran karakter yang kami latih dalam proyek ini meliputi;
Tanggung jawab; mempersiapkan hewan dan mengingat setiap tugas yang berhubungan dengan proyek ini membutuhkan sikap bertanggung jawab.
Kepedulian; merawat binatang jelas membutuhkan kepedulian. Mengetahui bagaimana merawat, makanan, dan kondisi yang nyaman untuk hewan yang dibawa.


 Kesabaran, adalah point penting yang harus selalu dilatih untuk melaksanakan setiap tugas.
Saling Bekerjasama
Fokus dan sikap hati-hati juga merupakan karakter yang harus dimiliki ananda untuk  suksesnya proyek pengamatan ini.
Merasakan langsung dengan sentuhan, akan menjadikan ananda mampu mengetahui lebih banyak banyak pengetahuan secara nyata.
Pada sisi kognitif, ananda diharapkan mampu memperoleh data informasi yang lebih lengkap tentang hewan peliharaannya. Memunculkan sikap kritis bertanya dan selalu haus pengetahuan.
Kerja sama orang tua yang luar biasa bersama kami di sekolah, adalah wujud pengembangan potensi yang insyAllah akan membawa ananda kesiapan menghadapi kehidupan nyata.
Amin …. Bismillah ….



                                                              

Rabu, 10 April 2013

KEAJAIBAN SEMANGAT DI KELAS INSPRIRASI




Pertama kali mengenal kota Makassar, tidak jauh beda dengan cuaca di Surabaya. “hangat”.
Memasuki sekolah SD Karuwisi III dengan harapan. Harapan untuk mampu menginspirasi dan terinspirasi. Karena saya adalah guru SD sejak 2003, mungkin kesulitan yang hadapi untuk mendekati anak-anak akan sedikit teratasi.
Pertanyaan besarnya adalah:
Bagaimana seorang guru SD dari Surabaya akan berbagi dengan siswa-siswi SD Negeri di Makassar?
Beberapa permainan dan film motivasi saya siapkan untuk berbagi di Kelas Inspirasi.
Permainan pertama adalah “Tiket Ke Mancanegara”
Saya sudah menyiapkan kertas koran yang sudah saya bagi menjadi empat bagian. Setelah  dibantu guru kelas yang mendampingi siswa hari itu, saya menarik perhatian mereka dengan tepuk irama.
Berikutnya, saya mengambil kertas Koran yang sudah saya siapkan dan mulai beraksi.
“Siapa yang mau tiket ke mancanegara?”, serentak para siswa menjawab, “Saya”.
Aksi saya lanjutkan,
“Baik, yang mau tiket ke mancanegara adalah anak-anak yang bisa memasukkan tubuhnya mulai kepala sampai kaki ke dalam kertas ini. Boleh disobek, dilobangi, atau dengan cara lain. Syarat utama, semua kertas harus digunakan dan tidak ada yang dibuang”.
Wajah anak-anak terlihat terperangah dan ada yang mengatakan, “Mana mungkin?, kertas sekecil itu!”
“Nah, karena tidak mungkin, maka jadikan semua menjadi mungkin dan berhasil”, reaksi saya menanggapi kalimat anak-anak.
“Siapa yang berani mencoba?”, saya mulai menantang.
Akhirnya ada banyak jari yang diacungkan, mereka sudah mulai terbakar semangat dan ingin berjuang.
Satu persatu mereka mencoba dan akhirnya sudah mulai muncul kreatifitas. Saya mulai memberi contoh, dan saya pura-pura mencoba. Untuk percbaan pertama saya berpura-pura gagal, karena saya ingin menunjukkanbahwa kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda.
 Ternyata ada juga yang mengamati apa yang saya lakukan dan akhirnya mereka menemukan langkah kuncinya. Setelah dua menit berpikir dan mengamati, akhirnya ada yang berhasil!
“Luar biasa! Kalian luar biasa! Ini adalah tantangan pertama. Dan kalian sudah mampu melaluinya dengan sangat baik. Maka, cita-cita apapun yang kalian miliki PASTI akan TERCAPAI!”
Mereka bertepuk tangan dan semangat mereka semakin luar biasa. Hampir di semua kelas yang saya masuki adalah kelas yang haus akan pengetahuan.
Kelas 5, kelas 4, kelas 6, kelas 3, dan kelas 2. Selalu ada anak yang meniatkan cita-cita mereka untuk membahagiakan orang tua mereka.
Setelah proses Kelas Inspirasi usai, bak seorang artis semua teman relawan diajak foto, dimintai nomor telpon, dan tanda tangan.
Inspirasi yang kami hadirkan hari ini semoga menjadi jalan keberanian untuk menata langkah terwujudnya mimpi-mimpi yang diterbangkan bersama balon sukses menuju cakrawala kehidupan nyata.
Terima kasih kepada Kepala sekolah dan seluruh guru yang sudah memberi ruang kepada kami untuk belajar menginspirasi dan terinspirasi.
Terima kasih kepada teman-teman Kelas Inspirasi Makassar yang sudah mengijinkan saya bergabung dalam kegiatan yang luar biasa ini.
Terima kasih kepada Bapak Anis Baswedan yang pemikirannya tercurah untuk kepentingan generasi bangsa Indonesia.
Pendidikan adalah mendidik, pendidikan adalah jalan
Beranilah bermimpi. Karena mimpi akan menjadi NYATA pada saat yang TEPAT.

Terima kasih
Hamdiyatur Rohmah
Guru SD Sekolah Alam insan Mulia Surabaya
Penulis buku Kelasku Laboratorium Kehidupan
Pemerhati Pendidikan