Menu Tab

  • BERANDA
  • PUISI
  • MOTIVASI
  • INDOOR
  • OUTDOOR

Rabu, 11 Januari 2012

HARVEST

PANEN KEDELAI

Setelah hampir 2 bulan kami menunggu, akhirnya masa panen tiba. Kedelai yang kami tanam daunnya sudah berubah warna dan bijinya terlihat berisi. Sayang, ada beberapa tanaman kedelai kami yang mati. Mereka tidak bertahan dikarenakan beberapa hal. Kami masih teledor dalam perawatannya, mencabuti rumput liar di sekitarnya, dan ketika hujan sudah tiba kami hampir saja melupakan untuk mengeceknya. Beruntung, Allah SWT Maha Pemberi Perlindungan, sehingga tanaman kami masih cukup banyak yang baik dan segar.






Mengapa kami memilih kedelai sebagai proyek tanaman ekonomi kami? Masa panen kedelai ini pendek, terus ada banyak manfaatnya, pengolahannya bisa berbagai cara. Produksi tempe, tahu, susu kedelai, kecap, keripik, kedelai goreng, dan cukup dengan kedelai godok. Semua itu bisa membuat kami banyak belajar tentang jiwa wiraswasta. Belum lagi persiapan penanaman, kami banyak belajar tentang berkelompok, kasih sayang dengan makhluk, kerja keras, mendalami profesi Petani, kesabaran, keikhlasan, dan niat baik.



Pada saat panen ini kami belajar bersyukur dan evaluasi diri. Dengan hasil yang kami peroleh, kami sangat senang. Memasuki ladang adalah hal yang kami tunggu, mencabut akar kedelai dan memisahkannya dari batang adalah hal yang istimewa. Belum lagi minggu depan kami akan mengolahnya menjadi tempe, susu kedelai, dan lainnya. Batang dan daun yang kami pisahkan hari ini akan kami buat sebagai pupuk kompos. Sungguh hari ini kami bisa berkata Full of learning.


IMG_9971.JPG
 

Senin, 02 Januari 2012

CERMIN


CERMIN

Seharusnya tulisan ini sudah kurangkai ketika Muharram yang lalu. Karena Muharram adalah bulan hijrah. Dari keluhan menjadi bersyukur, dari kemalasan menjadi semangat, dari kebodohan menjadi berilmu. Dari semua keburukan tahun lalu menjadi jihad untuk memperbaiki diri di tahun ini. Semoga keterlambatan ini akan lebih memacu semangat jihad untuk diri sendiri dan inspirasi bagi orang lain.
Kawan, ...
Sikap frontal,  iri dengki, sombong, merasa cerdas, kata-kata yang tajam dan keras, menuntut, negatif thinking, sok tau, sok baik, merasa benar, marah, dan segala hal “aneh” yang ada padaku selalu menjadi sebuah cerita. Sengaja ataupun tidak sengaja semua karakter itu muncul satu per satu, bahkan kadang bersamaan, dan kadang memang muncul bersama (payah). Kebaikan yang terkadang sedikit mampu kulakukan, masih belum mampu menutup semua karakter yang ada padaku tersebut.
Sebagai seorang hamba yang mengaku beriman dan Islam kepada Allah SWT, seharusnya aku akan sangat tersiksa ketika menyadari, bahwa aku selalu memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukan semuanya. Sebagai seorang yang mengaku muslim, seharusnya aku mampu menjauhinya. Namun, tidak jarang aku melupakan dua Malaikat yang dikirim Allah SWT untuk menjagaku; Malaikat Rokib dan Malaikat Atid. Dan ... yang paling menyedihkan kawan ... aku melupakan bahwa sholat ku adalah benteng yang seharusnya mampu melindungiku untuk mencegah perbuatanku yang keji dan munkar,
NAMUN ...
Aku masih mencari alasan untuk melegalkan perasaan iri dan dengkiku kepada yang lain, bahkan kepada saudara muslimku sendiri ...
Dengan mudahnya aku menggunjing, menyalahkan, mempermalukan, mengambil HAK mereka, dan bahkan mungkin pernah terbersit niat untuk memutuskan silaturahmi dengan mereka.
Aku masih gerah, ketika menyaksikan keberhasilan orang lain ...
Aku masih buang muka ketika tidak nyaman dengan sikap orang lain ...
Aku masih tak rela ketika yang kusebut harta diambil kembali melalui sedekah, kehilangan, dan berbagi ...
Aku masih tidak memperhatikan berapa kali kuisi tubuh ini dengan segala sesuatu yang kurang “diridloi”
Berapa kali aku menggunakan sesuatu yang bukan milikku, tanpa aku berkata “permisi” terlebih dahulu
Berapa banyak aku menemukan sesuatu, dan kemudian kuakui sebagai milikku ...
Bahkan, aku mengambil sesuatu yang bukan milikku ...
Dan aku merasa tidak ada yang tau ...


Begitu semua itu berlalu, kesadaranku pun masih tak tersentuh ...
Aku tetap dengan mauku ..... oooh ... maafkan aku

Saudaraku, ...
Sebagai seorang guru, akupun masih belum mampu digugu dan ditiru
Aku masih mengganggap diriku yang lebih berilmu, mengancam, menakuti, memerintah, dan melakukan apa saja yang menurutku baik untuk muridku, namun aku melupakan bahwa mereka lebih dari sekedar tahu ...
Aku bicara tentang ketulusan, namun yang selalu kulakukan adalah mengharap imbalan. Aku bicara tentang kejujuran, namun yang selalu kulakukan adalah kebohongan, aku bicara tentang harga diri, namun yang selalu kulakukan adalah membenci ... Dan aku bicara tentang berbagi, namun yang selalu kulakukan adalah meminta dikasihani ...
Jika saja yang kuajarkan kepada mereka menjelma sebagai “pecut”, sudah berapa kali lecutannya akan kembali padaku, menorehkan luka yang tak kan mudah terhapus oleh waktu ... “menyedihkan”. Dan dosa besar yang mungkin tak termaafkan adalah ketika aku mengajarkan sesuatu yang “keliru” dan merekapun akan menjalani kehidupannya dengan “keliru”. Oooooooohhhhhhh ... aku tak mampu menatap diriku dengan segala “kekeliruanku”.
Aku mengharap kalian selalu membuka pintu maaf dan dengan tulus membiarkan aku masuk untuk mensucikan diriku
Meski tanpa kata, namun itu sangat bermakna
Karena DIA akan menyentuh ku  kembali dengan Rahman RahimNya ketika kalian juga mengikhlaskannya.
Terima kasih telah menjadi tempat belajar menimbang rasa
Terima kasih telah menjadi pribadi yang penuh berkah
Terima kasih telah menjadi cermin untuk kehidupan bersahaja
Kuatku karena kasih sayangmu
Kebaikanku karena pengakuanmu

Rabu, 09 November 2011

Kesempatan Kesekian Kali

Aku tau, aku selalu mencari alasan untuk tidak menyukai bus kota; asap rokok, tatapan tajam, sikap kasar, pengamen, penjual koran, permen, air mineral, dll. Hmmm, kalau lagi egois ya ... aku harus rela merogoh saku ku lebih dalam untuk naik taxi. Aku tahu, aku tidak boleh selalu begitu, karena aku tahu resikonya.
Siang ini, dalam perjalanan pertama aku sudah merasakan bus patas yang kunaiki remnya kurang stabil. Beberapa kali ngerem mendadak dan setiap tarikan mesinnya terasa kasar. Alhamdulillah aku menikmatinya dengan tidur dan tidak mau berpikir negatif. Karena yang kualami semenjak hari raya Idul Adha adalah keberkahan yang tak terhingga.
Berada di rumah dan berkumpul dengan keluarga besar adalah berkah, membantu menjadi panitia Idul Qurban di rumah adalah berkah, mampu bersilaturahmi adalah berkah. Aku tidak mau fokus keberkahan itu luntur karena kondisi bus patas yang kutumpangi ini tidak stabil. Makanya aku memilih tidur dan berbicara dengan nurani.
Terima kasih kepada keluarga istimewa yang penuh cinta ... menyambut kedatanganku dengan ramah, rasa rindu, dan peluk hangat. Aku ... tidak cukup kata untuk mengucapkan ini semua:
Ibu ... anda bukan ibuku, tapi anda mencintaiku dengan tulus, berbagi kesedihan, kegundahan, dan kebahagiaan dengan lepas tanpa was-was
Ayah ... anda bukan ayahku, tapi anda selalu menghitung berapa lama aku tidak berkunjung, memintaku lebih lama tinggal untuk mengganti hari-hari masa sibukku, dan mengantarku naik bus antar kota dan mengiringi perjalananku dengan do'a
Kakak dan Mbak ... kalian bukan saudara, tapi kalian selalu menyediakan ruang dan waktu untuk bercanda dan berbagi rasa
Jiwa-jiwa kecil, para malaikat penghuni rumah damai, kalian adalah jiwa-jiwa yang menarikku untuk selalu ingin kembali. Menarik perhatianku dengan tangis, tawa, dan kenakalan masa kanak-kanak ...
aku mencintai kalian, sejak awal aku bilang kalian adalah keluargaku ... yang dipertemukan Allah SWT dengan segala keajaiban dan ketidakmungkinan. Aku hanya punya cinta, yang kubagikan tanpa mengenal warna. Aku sebut kalian dalam do'a setara dengan Abah, Emak, dan keluarga sedarah. Terima kasih
Kembali ke perjalananku siang ini. Sesampainya di terminal bus, aku segera memasuki bus kota yang siap berangkat. Hampir semua kursi telah terisi. Aku berharap bertemu dengan kawan yang kukenal, hmmm ... aku belum menemukannya. Aku mencari kursi kosong, aku mencari kursi yang berjajar dengan perempuan. Yeah, aku menemukannya hanya satu yang tersisa dengan seorang mahasiswi. Sempurna! Aku mengeluarkan si gamsa, HP semata wayangku ... ujung mataku bergerak menatap lurus ke depan ... dan ... harapanku terkabul, aku melihat seorang kawan yang kukenal. Dia teman satu mess, aku mengucap syukur dalam hati dan menulis sms untuknya. Dia tetap fokus menata tempat duduk ekstra yang tersisa.
Baiklah, sebaiknya aku nikmati saja bus kota ini, kami pasti bertemu di terminal berikutnya. Aku menutup hidungku dengan tissu, asap rokok, nyanyian, tawaran, dan percakapan yang kadang tak kumengerti mulai beraksi. Aku belajar menikmati ... dalam diam dan diskusi dengan diri.
Bus berangkat, aku masih belum bisa mengalihkan perhatian temanku yang duduk di bangku ekstra dekat pak Sopir. Perjalanan lancar, hingga pada akhirnya. Bus memasuki kawasan padat kendaraan, karena itu terdapat perempatan dan belokan yang kurang "pas" untuk menyeberang. Dan kayu pembatas siap menghalangi kendaraan yang mau melintas ketika ada suara kereta api datang.
Karena jam pulang kerja kantoran, aku tidak heran dengan kepadatan ini... tiba-tiba suara bus yang kunaiki ini seperti menabrak kendaraan lain di depannya. Suara bel kereta api dan kayu pembatas siap bertugas. Bus kota ini tepat di atas rel, pikiranku terhenti hatiku mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan. Pikiran nakalku sudah bermain di dunia yang tak kukenal. Ia berkata, mungkin besok pagi akan ada berita headline metropolis ttg kecelakaan jalan raya, . Segera kuhentikan imajinasi gila ini, aku berkata pada diri sendiri, sudahkan kamu pasrah dan rela? Jika hari ini yang terjadi adalah "celaka" ... aku hanya tunduk dan kerahkan kembali jiwa dan raga ini kepada pemilikNYA.
Pada detik terakhir, pak sopir memilih maju dan menabrak beberapa kendaraan di depannya ... Alhamdulillah, kami selamat meski Pak Sopir harus berurusan dengan sopir dan pemilik kendaraan
Syukur terdalam dan kepasrahan diri membuatku tenang dan lebih bahagia.
Terima kasih Allah SWT untuk kesekian kali kembali Engkau beri kesempatan kepada hamba untuk menjalankan kewajiban sebagai Kholifah di bumi.
(semoga yang sedikit ini mampu memberi arti)
Amin  yaa Rabb ...

Kamis, 06 Oktober 2011

Share the same love

Ada saat kita nyaris tak berdaya oleh sesuatu yang "tidak" kita ketahui. Kali ini akupun demikian. Aku membutuhkan selaksa energi positif untuk keseimbangan langkah kehidupan. Musuh yang paling menakutkan memang diri sendiri. Ada beberapa hal yang kulakukan untuk menikmati suasana ini.Aku pinjam "sweet style and nothing box" dari seorang teman. "Try to focus on thinks around you that you can influence somehow ...". Sebenarnya banyak sudah teori yang kita tahu, namun ada masa di mana ia terabaikan.
Aku tahu, yang kubutuhkan ada jiwa-jiwa bersih murid-muridku. Merekalah yang akan menjadi obat termujarab dalam kondisi ini. "Yesterday was dream, today is amazing", i pray it for my self.
Pagi ini aku mengawali sapaanku kepada tubuhku sendiri, mengajak mereka untuk fokus dan menghadapkan wajah hanya kepadaNya. Setelah mengeprint beberapa file, aku segera ke pintu gerbang untuk ikut menyambut wajah-wajah ceria generasi terbaik masa depan. Spirit mereka sudah memasuki jiwa.
Ketika kegiatan warming up, aku sengaja bergabung dengan kelas I. Mereka luar biasa ... permainan konsentrasi dan memahami komando kami nikmati dengan gembira. Ya, aku bahagia. Apalagi ketika mereka memanggil dan memelukku dengan hangat. SubhanAllah ...
Belajar di kelas bersama anak-anak yang keren membuatku semakin bersemangat. Setelah mengoreksi satu bendel soal, aku meminjam gitar ke anak-anak SMP. Aku belajar sebentar kepada Kepala Sekolahku untuk memainkan dua buah lagu sederhana. "Wonderful Friend dan Today is Monday in Lousiana". Almost perfect, i can play the guitar.
Sebagian anak langsung mendekatiku, mereka berceloteh. "Apakah ustadzah bisa main gitar?", "Waaaah, aku tidak menyangka Ustadzah bisa main gitar", "Ayo, segera kita bernyanyi bersama". Aku hanya tersenyum, kemudian aku mengaku aku belum bisa mainkan lagu yang kalian minta. Mereka minta aku menyanyikan lagu "Bungong Jeumpa-Aceh" dan "Laruik Sanjo"...waduh aku tahu temponya, tapi aku belum belajar memainkan gitarnya.
Tiba-tiba gadis cantikku berkata: "Ayo Ust, mainkan sebisanya saja...kita yang menyanyi". Oh, betapa kalimat itu membuatku merasakan dingin di dada. Aku lihat, ustadz hanya mengawasi kami. sepertinya ia memperhatikan permainan gitarku yang amburadul. Aku letakkan gitarku, aku mengikuti syair lagu mereka...dan .... Ustadz memainkan gitar dengan nada yang lebih baik dariku. Aku lanjutkan kolaburasi dengan suara merdu anak-anakku. Hmmmm, aku bahagia.
Pada saat tes vokal satu persatu mereka unjuk kebolehan. Keberanian bergaya, vokal, dan kemampuan memahani tangga nada mereka praktekkan. Ada banyak keajaiban yang kudapati hari ini. Tak bisa kuceritakan dengan detail. Semuanya tidak terprediksi, mereka semua luar biasa. Mempesona ... aku bahagia.
Jam ketiga, aku terlambat 5 menit masuk kelas. Ustadz sudah bermain "angin bertiup" dengan mereka. Aku gabung dengan membawa gitar pinjaman. Kemudian kami mengubah permainan menjadi bahasa Inggris, mereka memaksa diri untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Aku senang melihat usaha mereka. Luar biasa!!!
Waktu masih tersisa 30 menit, aku dan Ustadz menawarkan tantangan untuk mereka. Kami membuat proyek mini drama untuk memacu kepercayaan diri dan kerja tim mereka. Mereka sanggup dan langsung meminta untuk dibagi kelompok. Dengan cekatan mereka mengambil kertas dan mulai berpikir tentang skenario. Ada satu kelompok yang merasa tidak cocok dengan komposisi kelompoknya. Aku memberi kode kepada ustadz, kemudian aku berkata: "Yang merasa tidak cocok dengan kelompoknya boleh mengundurkan diri". Kulihat raut muka kelompok itu merah, akhirnya mereka mulai berdiskusi dan terjadilah kerja sama membuat skenario drama dengan harmonis. Ustadz mengucapkan kalimat: "Tidak perlu negatif thinking terlebih dahulu kepada kawan". Aku hanya tersenyum dan mengelus kepala anak-anak hebat tersebut. Aku bahagia ...
Jam ekstra vokal sudah tiba, aku segera membantu mengkondisikan kegiatan elstra hari ini. Aku begitu terpesona dengan suara mereka, aku tidak mau banyak cerita lagi. Yang jelas, mereka adalah anak-anak yang istimewa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku bahagiaaaaa..... Terima kasih teman yang sudah menyambungkan semua sisi positif. Terima kasih semua anak-anak terbaik ku yang selalu menjadi obat pada setiap masa kelemahanku. Terima kasih teritinggiku kepada Allah SWT yang memberikan setiap detik kebahagiaan, hingga aku malu untuk tidak berkata "terima kasih" untuknya. Terima kasih .... terima kaasih.

Jumat, 30 September 2011

KALIAN

Bersama kalian aku bisa menjadi berarti. Aku tidak perlu memenjarakan diriku dengan prediket apapun. Aku mampu menjadi apa saja untuk menuju kebaikan yang kita tahu. Peran ibu, ayah, kakak, teman, dan lawan kompetisi. Aku tidak malu untuk berlari, menari, berpuisi, bernyanyi, dan kadang berteriak di tengah lapangan. 
Aku juga akan mampu mengolah peranku, mengingatkan kalian dengan kasih, mengingatkan kalian dengan tawa, mengingatkan kalian dengan diam, dan mengingatkan kalian dengan ketegasan. 
Aku dan kalian dipertemukan, aku dan kalian diberi kesempatan, aku dan kalian dianugerahi waktu yang sangat berharga. Ada banyak ketakutan, ada banyak keraguan, ada banyak kehawatiran, ada juga kemarahan.
Namun, kita juga memiliki kebahagiaan, kegembiraan, kepercayaan, kemenangan, dan tentu saja kasih sayang. Salam kalian, sentuhan, dan ciuman kalian selalu menyertai hariku. Membahagiakan, merindukan, dan mengundangku untuk selalu hadir dalam do'a dan harapan.
Kalimatku tak cukup untuk menyatakan syukur ketika ada banyak pelajaran yang kalian suguhkan. Setiap tahun berganti, setiab bulan mewarnai, setiap minggu menanti, setiap hari memberi, setiap jam berarti, setiap menit mengiringi. Setiap detik kudzikirkan segalanya dengan kesyukuran, tanpa sadar atau memaksa kesadaranku.
Aku akan mengingat bahwa setiap diri kalian adalah istimewa.

Senin, 26 September 2011

Hold My Hand


Hold My Hand
By: Maher Zain
 
I hear the flower’s kinda crying loud
The breeze’s sound in sad
Oh no
Tell me when did we become,
So cold and empty inside
Lost a way long time ago
Did we really turn out blind
We don’t see that we keep hurting each other no
All we do is just fight

Now we share the same bright sun,
The same round moon
Why don’t we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought
Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you
Children seem like they’ve lost their smile
On the new blooded playgrounds
Oh no
How could we ignore , heartbreaking crying sounds
And we’re still going on
Like nobody really cares
And we just stopped feeling all the pain because
Like it’s a daily basic affair
Now we share the same bright sun,
The same round moon
Why don’t we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought
Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you
No matter how far I might be
I’m always gonna be your neighbor
There’s only one small planet where to be
So I’m always gonna be your neighbor
We cannot hide, we can’t deny
That we’re always gonna be neighbors
You’re neighbor, my neighbor
We’re neighbors
So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what have left behind
So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Rabu, 21 September 2011

For you, Thank you

"May i take your picture Mam"? Alya Tara asks me. "Sure, why not"?, actually i wanna ask her, what for? But, i can't say it. Yay! She is very happy. "Okay, just wait for tomorrow. Hopefully it will gonna be surprise for you." She whispers to me. I just smile, then she got my picture.

Kemudian, aku berjalan mendekati kerumunan anak-anak yang lain dan bergabung dengan forum diskusi mereka. Hari ini terasa begitu menyenangkan, semua anak menikmati setiap aktivitas dengan gembira. Anak istimewaku juga bertahan konsentrasinya sampai jam pelajaran ketiga. Yeah, inilah arti bahagia. Bahagia yang membahagiakan.

Keesokan harinya, aku terlambat masuk kelas karena bertemu dengan walimurid yang membutuhkan pendengar yang baik. Setelah selesai, aku segera bergegas ke kelasku. Alya Tara kembali mendekatiku.

"Mam, there is something on your table. Please, check it now"?, she asks me. "Okay, i will check it later. We are reading Al-Fajr now". She looks disappointed. I accompany them until finish. I need to take a pencil, so i go to my table. And, i found a brown envelope. "Untuk Ustadzah Hamdiya, terima kasih".

Membaca tulisan-tulisan yang ada di amplop itu membuatku merasakan sentuhan kasih-sayang. Terutama kalimat "Semoga bisa haji, semua orang mendo'akan (keluargaku) dan Liong (kucingku), hehehe.

Aku segera membuka amplop itu dan ... sebuah lukisan karikatur indah ada di sana. Ya, itu aku, itu aku. Alya Tara menjadikan aku sebagai model karikaturnya. Aku terharu, i am speechless. I come to her and shake her hand, thank you Alya Tara. Thank you. This is a best love, best day. Love you.